Presiden Direktur Pefindo Salyadi Saputra mengatakan, diantara seluruh sektor pemegang dana kelolaan, asuransi terbilang paling sedikit menginvestasikan uangnya di obligasi korporasi. Hingga Mei, dana kelolaan asuransi yang mengalir ke obligas korporasi tercatat Rp21,7 triliun, atau 4,88 persen dari dana kelolaannya yang mencapai Rp445,1 triliun.
Salyadi menuturkan, minimnya penembatan asuransi pada obligasi korporasi antara lain disebabkan adanya Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 1 Tahun 2016 yang mewajibkan minimal 30 persen dana kelolaan asuransi ditempatkan pada Surat Berharga Negara (SBN). Padahal, penetrasi dana asuransi ke obligasi korporasi seharusnya lebih besar, agar penempatan dana asuransi bisa lebih variatif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya asuransi, sektor perbankan juga terlihat minim dalam menempatkan dana kelolaannya di obligasi korporasi. Sebab, dari penempatan dana perbankan di luar kredit sebanyak Rp1.186,4 triliun, hanya Rp59,9 triliun atau 5,05 persen saja yang masuk ke obligasi korporasi.
"Analisis kami, banyak reksa dana dipakai investasi karena ini adalah solusi alternatif terhadap deposito. Kalau bentuknya fixed income, kemungkinan masyarakat untuk dapat return yang negatif hampir tidak mungkin. Akibatnya, pertumbuhannya (dana kelolaan) manajer investasi di pasar obligasi korporasi juga terbilang sangat signifikan," imbuhnya.
Salyadi berharap, penempatan dana perusahaan keuangan pada obligasi korporasi dapat diperbesar seiring peluang untuk mendapatkan yield yang lebih tinggi. Dia memperkirakan, yield obligasi saat ini terbilang lebih atraktif dalam jangka panjang karena inflasi yang stabil dan suku bunga yang terus melandai.
Di samping itu, yield obligasi pemerintah saat ini juga menurun karena ada kenaikan peringkat investasi (investmet grade) oleh Standard and Poor (S&P). Akibatnya, selisih (spread) yield antara obligasi pemerintah dan obligasi korporasi semakin besar, sehingga obligasi korporasi dipandang sangat menarik.
Adapun menurut data Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA), saat ini spread antara yield obligasi korporasi dengan obligasi pemerintah dengan peringkat AAA mencapai 163,5 basis poin hingga 170,4 basis poin. Angka ini diambil dari obligasi yang memiiki masa tenor antara 5 hingga 10 tahun.
"Benchmark rate terus menurun, sehingga obligasi juga terbilang lebih menarik," pungkasnya.