Wakil Ketua Komisi XI DPR Achmad Hafisz Tohir menilai, rencana ini tak realistis untuk dikejar oleh pemerintah dalam waktu dekat. Pasalnya, rencana itu dinilainya tak memiliki urgensi. Pemerintah menurut dia, seharusnya lebih fokus pada pengendalian kemiskinan dan mempersempit ketimpangan ekonomi.
"Apa urgensinya? Kalau dibandingkan dengan persoalan yang dihadapi rakyat saat ini, itu jauh lebih penting untuk mengentas kemiskinan. Kita tau hari ini rakyat tidak berhasil mendapat beras miskin," ujar Hafisz usai rapat bersama pemerintah mengenai Rencana Kerja Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA K/L), Senin (24/7).
Menurutnya, angka kemiskinan yang meningkat dan sejumlah masalah lainnya, seperti penarikan subsidi tarif listrik lebih penting untuk diperhatikan pemerintah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya setuju saja ibu kota lebih baik lagi. Tapi apa hari ini harus dipindahkan? Makanya, kami sampaikan, itu dikaji dulu saja. Kalau memang mau pemerintah buat kajian ya suruh saja swasta," kata Hafisz.
Senada dengan Hafisz, Anggota Komisi XI DPR Refrizal meminta pemerintah untuk meredam wacana pemindahan ibu kota. "Lebih baik polemiknya kita stop, itu buang energi bangsa dan negara. Di-stop saja, sehingga konsentrasi ke hal yang lain," tutur Refrizal.
Sebelumnya, Kementerian Keuangan mengaku telah menerima usulan penambahan anggaran untuk kajian pemindahan ibu kota senilai Rp7 miliar dari Kementerian PPN. Adapun anggaran tersebut telah disampaikan ke Badan Anggaran (Banggar) DPR.
"Iya masuk ke belanja Bappenas. Tapi jangan salah, ini baru (anggaran) kajiannya. Pembiayaan untuk melakukan kajian," kata Direktur Penyusunan APBN Direktorat Jenderal Anggaran Kemenkeu Kunta W.D. Nugraha.