Presiden Direktur PTBA Arviyan Arifin mengatakan, lokasi tambang perusahannya yang cukup luas dianggap mampu mengakomodasi pembangunan PLTS. Saat ini, ia mengaku PTBA punya lahan tidak aktif sebesar 30 ribu hektare (ha) dari total lahan pertambangan 93 ribu ha.
Menurutnya, setiap 2 ha lahan bisa menampung solar cell berkapasitas 1 Megawatt (MW). Dengan demikian, potensi lahan tambang PTBA diharapkan bisa menghasilkan listrik hingga 15 ribu MW.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rencananya, masing-masing pembangkit bisa menghasilkan listrik hingga 30 MW. Meski demikian, perusahaan masih mencari teknologi yang tepat agar listrik bisa lebih efisien.
"Teknologinya belum ada yang murah, karena kami ingin agar tarif listrik yang kami jual bisa di bawah US$0,1 per Kilowatt-hour (KWh)," imbuhnya.
"Perawatan PLTS ini dua saja, untuk mengelap kaca dan berdoa. Berdoa agar panas mataharinya terus cukup," katanya.
Sembari menunggu realisasi PLTS, saat ini perusahaannya tengah merampungkan beberapa proyek PLTU yang digarap sebelumnya. Adapun, perusahaan akan melakukan konstruksi atas PLTU Sumsel 8 berkapasitas 2x620 MW di awal tahun depan dan membangun pembangkit bagi aktivitas dua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) lain seperti PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) di Kuala Tanjung dan PT Aneka Tambang (Persero) di Halmahera Timur.
"Kami juga akan mengembangkan PLTU mulut tambang di Peranap, Riau, namun kami menunggu proyek ini untuk masuk Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN," pungkas Arviyan.