Kepala Divisi LRT Ahmad Najib Tawangalun menuturkan, ada kemungkinan penumpang-penumpang LRT yang potensial tidak bisa terangkut karena tidak disediakan stasiun. Hal ini diketahui dari hasil analisis lembaga konsultan Price Waterhouse Cooper (PWC) terkait potensi pengembangan proyek LRT kedepan.
Seiring hasil analisis tersebut, perusahaan tak hanya berniat mengkaji jumlah stasiun, tetapi juga letaknya. Kajian tersebut akan saat ini tengah dikerjakan Kementerian Perhubungan bersama dengan PT Adhi Karya (Persero) Tbk selaku kontraktor proyek. Dalam waktu dekat, ia harap hasilnya sudah dapat diketahui.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, kajian ulang ihwal stasiun dilakukan karena proyek LRT akan diintegrasikan dengan pengembangan properti yang terintegrasi dengan jaringan transportasi publik (Transit Oriented Development/TOD). Rencananya, KAI dipercaya untuk memimpin pengembangan berbasis TOD, yang nantinya bisa meningkatkan tingkat keekonomian proyek.
"Kami harapkan dengan swasta itu juga bisa sharing, karena mereka akan mendapat manfaat dari aksesibilitas yang bagus dengan adanya LRT," paparnya.
Sementara itu, Direktur Utama Adhi Karya Budi Harto menuturkan, rencananya TOD memang akan dilelang. Namun, sampai sekarang belum ada pihak swasta yang berminat menggarap proyek ini. Adapun, TOD ini rencananya akan mengambil luas lahan sebesar 50 hektare (ha).
"Segera ditenderkan," ungkapnya.