"Kenaikan laba yang cukup menggembirakan lebih banyak didukung oleh kredit karena ekspansi kredit juga lumayan," tutur Direktur Utama BRI Suprajarto dalam konferensi pers di Gedung BRI I, Kamis (3/7).
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, pertumbuhan penyaluran kredit perseroan mencapai 11,8 persen dari Rp615, 5 triliiun per kuartal II 2016 menjadi sebesar Rp687,9 pada paruh pertama tahun ini. Sekitar 74,4 persen di antaranya disalurkan ke segmen Usaha Mikro Kecil dan, Menengah (UMKM), yaitu sebesar Rp490 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di semester II, kredit kami masih yakin tumbuh 12 sampai 14 persen. Di akhir tahun semoga maksimal di 14 persen. Segmentasi tetap di UMKM dan mikro yang ingin kita dorong," jelasnya.
Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) perseroan tercatat naik 12,3 persen secara tahunan menjadi Rp768 triliun. Dana murah (CASA) perseron masih mendominasi di kisaran 56,09 persen.
Dana giro tercatat mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 17,4 persen menjadi Rp130, 6 triliun. Sedangkan tabungan tumbuh 11,5 persen menjadi Rp300,1 triliun. Sementara, dana deposito tumbuh 11,1 persen menjadi Rp337, 2 triliun.
Selanjutnya, likuiditas perseroan cukup terjaga dengan rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) sebesar 89,5 persen dan rasio kecukupan modal (CAR) di kisaran 21,4 persen.
Adapun, salah satu penyumbang fee based income terbesar adalah jasa transaksi e-channel dan kartu debit dengan komposisi sekitar 26 persen.
Melihat capaian hingga akhir semester I 2017, Suprajarto yakin, target pertumbuhan laba tahun ini sebesar 5 hingga 7 persen bakal tercapai.