Secara nominal, perolehan laba tertinggi dicetak oleh PT Bank Rakyat Negara Tbk (BRI) dengan meraup laba sebesar Rp13,45 triliun atau tumbuh 10,4 persen (yoy).
"Kenaikan laba yang cukup menggembirakan lebih banyak didukung oleh kredit karena ekspansi kredit kita juga lumayan," tutur Direktur Utama BRI Suprajarto dalam konferensi pers di Gedung BRI I, kemarin.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, pertumbuhan penyaluran kredit bank 'wong cilik' ini mencapai 11,8 persen dari Rp615, 5 triliiun per kuartal II 2016 menjadi sebesar Rp687,9 pada paruh pertama tahun ini. Penyaluran kredit yang tumbuh mampu meningkatkan pendapatan bunga bersih (NII) menjadi Rp36,3 triliun atau tumbuh 12,4 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, pertumbuhan laba tersebut sering dengan perbaikan kualitas kredit perseroan yang mendorong kontribusi pendapatan jasa perbankan. Pada Juni 2017, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) perseroan membaik dari 3,86 persen pada Juni 2016 menjadi 3,82 persen.
“Pencapaian positif ini membuktikan bahwa berbagai langkah perbaikan bisnis yang kami lakukan sejak tahun lalu telah membuahkan hasil yang signifikan,” ujar pria yang akrab disapa Tiko ini.
Terakhir, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) mampu mencetak laba sebesar Rp1,27 triliun atau tumbuh sekitar 22 persen. Kenaikan laba tersebut ditopang oleh kenaikan pendapatan bunga bersih perseroan, seiring naiknya penyaluran kredit dan penghimpunan simpanan. Tercatat pendapatan bunga bersih tumbuh 14,13 persen (yoy) menjadi Rp4,2triliun.
Di sisi lain, pertumbuhan penyaluran kredit sedikit melambat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Tercatat, total penyaluran kredit bank pelat merah sepanjang Januari-Juni mencapai Rp1.959,52 triliun atau hanya tumbuh 13,1 persen. Sementara, periode yang sama tahun lalu, penyaluran kredit bank BUMN masih bisa tumbuh di kisaran 18 persen menjadi Rp1.733,02 triliun.
(CNN Indonesia/Astari Kusumawardhani) |
Asal tahu saja, penurunan NPL terbesar dicapai oleh BNI yang mampu menurunkan NPL dari 3 persen menjadi 2 persen.
Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) empat bank BUMN mencapai Rp2.151,93 triliun atau tumbuh 13.2 persen. Pertumbuhan DPK terbesar dialami oleh Bank BNI yaitu sebesar 18,5 persen menjadi Rp463,86 triliun.
Capain kinerja pada semester I 2017 membuat total aset bank pelat merah naik sebesar 13,1 persen menjadi Rp2.950,56 triliun dari periode yang sama tahun lalu, Rp2.607,9 triliun.
Terkerek Proyek Infrastruktur
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai kinerja bank BUMN pada paruh pertama tahun ini sangat terbantu oleh proyek- proyek infrastruktur yang digulirkan oleh Pemerintah.
Hal itu terlihat dari tingginya penyaluran kredit di sektor konstruksi secara umum pada portofolio kredit bank plat merah. Sayangnya, kenaikan penyaluran kredit dari proyek pemerintah memiliki risiko tidak berkelanjutan (sustainable).
Lihat juga:Semester I, BRI Cetak Laba Rp13,4 Triliun |
Di sisi lain, penyaluran kredit ke sektor konsumsi dan komoditas belum sepenuhnya pulih jika dibandingkan kondisi tiga tahun sebelumnya. Beberapa bank BUMN juga masih membersihkan kredit macet. Semakin cepat membersihkan kredit macet maka potret laporan keuangannya tentu makin bagus.
"Intinya harus mengatur kembali portfolio kreditnya di semester II ini karena kondisi global maupun domestik masih penuh tantangan. Jangan lengah oleh laba yang jumbo," ujar Bhima kepada CNNIndonesia.com, Jumat (8/4).
(CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
(CNN Indonesia/Astari Kusumawardhani)