Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Agusman menjelaskan, merosotnya surplus selama April-Juni disebabkan oleh meningkatnya defisit transaksi berjalan dan menurunnya surplus transaksi modal dan finansial selama periode tersebut.
"Defisit transaksi berjalan tercatat lebih besar seiring menurunnya surplus neraca perdagangan nonmigas disertai meningkatnya defisit neraca jasa dan pendapatan primer," jelas Agusman, dalam keterangan resmi, Jumat (11/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas disebabkan oleh turunnya ekspor nonmigas di tengah tingginya impor nonmigas, baik bahan baku dan barang konsumsi, untuk memenuhi permintaan domestik selama bulan puasa dan lebaran," terang Agusman.
Transaksi modal dan finansial pada kuartal II 2017 mencatat surplus US$5,9 miliar, seiring meningkatnya surplus investasi langsung dan investasi portofolio. Surplus transaksi modal dan finansial tersebut lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada triwulan I 2017 sebesar US$8 miliar maupun surplus pada triwulan II 2016 sebesar US$6,9 miliar.
"Lebih rendahnya surplus disebabkan oleh meningkatnya defisit investasi lainnya, terutama kebutuhan untuk pembayaran utang luar negeri serta antisipasi perbankan untuk memenuhi kebutuhan likuiditas valas perbankan yang bersifat temporer dalam menghadapi libur panjang lebaran," ujarnya.
Secara keseluruhan, BI menilai, perkembangan NPI pada kuartal II 2017 secara keseluruhan, masih menunjukkan terpeliharanya keseimbangan eksternal perekonomian sehingga turut menopang berlanjutnya stabilitas makroekonomi.
Namun demikian, BI terus mewaspadai perkembangan global, khususnya risiko terkait kebijakan bank sentral AS dan faktor geopolitik, yang dapat memengaruhi kinerja neraca pembayaran secara keseluruhan.
"Bank Indonesia meyakini kinerja NPI akan semakin baik didukung bauran kebijakan moneter dan makroprudensial, serta penguatan koordinasi kebijakan dengan Pemerintah, khususnya dalam mendorong kelanjutan reformasi struktural," ujarnya.