OJK Matangkan Tiga Instrumen Pendanaan Infrastruktur

Dinda Audriene Muthmainah     , CNN Indonesia | Sabtu, 12/08/2017 16:41 WIB
OJK Matangkan Tiga Instrumen Pendanaan Infrastruktur OJK berharap peran pasar modal terhadap pembangunan ekonomi akan semakin meningkat dalam beberapa tahun ke depan.(CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah mematangkan tiga instrumen pasar modal yang guna membiayai pembangunan infrastruktur. Ketiganya terdiri dari perpetual bonds (obligasi tanpa waktu jatuh tempo), infrastructure bonds (obligasi infrastruktur), dan project bonds (obligasi berbasis proyek).

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menjelaskan, pihaknya akan lebih mengoptimalkan pasar modal sebagai sumber pembiayaan pembangunan infrastruktur.

Menurut Wimboh, salah satu diantara tiga instrumen itu sudah dalam taraf pengembangan (brown field projects), dan sisanya berada dalam taraf awal pembangunan (green field projects).

"Jadi kami dalam OJK sedang dalam proses susun target jangka menengah dan panjang. Bagaimana peran pasar modal tentu tidak mudah," papar Wimboh, Jumat (11/8).

Selain untuk membiayai proyek infrastruktur, jelas Wimboh, pasar modal juga akan lebih likuid karena memiliki beragam instrumen investasi. Dengan demikian, pilihan pelaku pasar dapat semakin beragam dan tak monoton.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Hoesoen memaparkan, tepat pada hari ulang tahun pasar modal ke 40 pada Kamis, (10/8) kemarin, OJK telah mengeluarkan pernyataan efektif untuk penerbitan tiga instrumen pasar modal sekaligus dengan total nilai Rp12 triliun.

"Ini langsung digunakan untuk membiayai pembangunan infrastruktur jalan tol, bandara, dan ketenagalistrikan," ucap Hoesoen.
Ia berharap, penerbitan instrumen tersebut dapat positif bagi kelangsungan pembiayaan infrastruktur. Hoesoen pun berharap memasuki usia ke-40 pasar modal di tanah air, peran pasar modal dalam pembangunan nasional akan terus bertambah.

"Memang ke depan peran pasar modal lebih banyak, nanti kami follow up stretagi dalam pengembangannya," kata dia.
Adapun, nilai kapitalisasi pasar di pasar modal Indonesia tumbuh 2,34 juta kali bila dihitung sejak tahun 1977 hingga akhir Juli 2017. Pada tahun 1977, posisi nilai kapitalisasi pasar berada di level Rp2,73 miliar, sedangkan akhir Juli 2017 melonjak hingga Rp6.400 triliun.

"Apabila di tahun 1977 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) baru 98 poin, maka akhir Juli telah mencapai 5.849,93 poin," jelas Direktur Utama BEI, Tito Sulistio.


BACA JUGA