PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatat, nilai remitansi sepanjang Januari-Juni mencapai US$33 miliar atau naik sekitar 18 persen secara tahunan (yoy). Adapun transaksi remitansi ritel mendominasi, yakni sebesar 65 persen dari total transaksi.
"Peningkatan remitansi tersebut terutama berasal dari transaksi inward remittance dari pekerja Indonesia di luar negeri," tutur Sekretaris Perusahaan BCA Jan Hendra melalui pesan singkat kepada CNNIndonesia, akhir pekan lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hingga akhir tahun, Jan menargetkan nilai transaksi remitansi tetap bisa tumbuh dua digit.
Head of Consumer Deposit Bank Mandiri Trilaksito Singgih Hudanendra mengungkapkan, kenaikan tersebut didorong olah upaya perluasan mitra di berbagai negara.
"Strateginya, kami melakukan perluasan partner di berbagai negara yaitu Hong Kong, Jepang, dan Malaysia," jelas Singgih.
Senada dengan Jan, Singgih juga berharap perusahaan bisa mempertahankan pertumbuhan bisnis remitansi di level dua digit hingga akhir tahun.
Sementara itu, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) Suprajarto mengungkapkan, jumlah transaksi remitansi perseroan pada sepanjang tahun ini tumbuh 15 persen menjadi 2,7 juta transaksi. Sayangnya, Suprajarto tidak menyebutkan nilai transaksi remitansi perseroan.
"Kami lebih serius menggali potensi TKI," ujar Suprajarto.
Baru-baru ini, lanjut Suprajarto, perusahaan juga telah meluncurkan Kartu Pekerja Indonesia Malaysia (KPIM) untuk memberikan akses perbankan pada para TKI di Malaysia, negara asal pengiriman remitansi terbesar. Kartu ini bisa digunakan sebagai untuk transaksi pengiriman uang valas dan kartu debit.
Sepanjang tahun, Suprajarto berharap bisnis remitansi bisa tumbuh dua digit.
Lihat juga:Pengiriman Uang TKI Melonjak Jelang Lebaran |
Dikutip dari laporan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) Kuartal II 2017, Senin (14/8), penerimaan remitansi terbesar berasal dari TKI yang bekerja di kawasan Asia Pasifik dengan remitansi masuk sebesar US$1,3 miliar. Kemudian, TKI yang bekerja di kawasan Timur Tengah dan Afrika mengekor sebesar US$800 juta.
Sementara itu, pembayaran remitansi keluar mengalami penurunan tipis dari US$840 miliar pada kuartal II 2016 menjadi US$835 miliar.