Refined Bangka Tin Incar Produksi 10 Ribu Ton Timah Batang

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Selasa, 15/08/2017 14:52 WIB
Refined Bangka Tin Incar Produksi 10 Ribu Ton Timah Batang Angka target produksi tahun ini meningkat 150 persen hingga 200 persen dari realisasi tahun sebelumnya sebesar 4 ribu ton. (REUTERS/Dwi Sadmoko)
Bangka, CNN Indonesia -- Produsen timah olahan, PT Refined Bangka Tin menargetkan produksi sebesar 10 ribu hingga 12 ribu ton timah batang per tahun. Angka ini meningkat 150 persen hingga 200 persen dari realisasi tahun sebelumnya sebesar 4 ribu ton.

Direktur RBT Reza Adriansyah mengatakan, realisasi tahun ini memang sesuai dengan kapasitas terpasang fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) perusahaan. Ia menyatakan, produksi sempat mengalami penurunan tahun lalu karena smelter sempat tidak beroperasi enam bulan lamanya.

“Karena tutup enam bulan, jadi realisasi tahun kemarin tak mencapai target. Dari target kami sebesar 10 ribu ton di tahun lalu kami hanya capai 4 ribu ton,” ungkap Reza di Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung, Selasa (15/8).

Adapun, penurunan produksi itu disebabkan oleh perpindahan kepemilikan perusahaan yang semula digenggam oleh Artha Graha Network ke tangan sekelompok pengusaha dengan latar belakang yang berbeda.

Perpindahan kepemilikan itu sendiri terjadi bulan Agustus 2016 silam setelah pemegang saham sebelumnya memutuskan untuk tidak bergerak di bisnis pertambangan lagi.

“Pengusaha itu membentuk konsorsium yang tidak ada namanya, gabung saja semuanya. Ada yang latar belakangnya pedagang (trader) timah, ada kontraktor juga,” paparnya.

Meski produksi sempat jatuh tahun lalu, Reza optimistis tahun ini bisa mencapai target. Apalagi, realisasi produksi hingga Agustus ini telah mencapai 5 ribu ton yang diekspor ke Amerika Serikat, Belanda, Jepang, Korea Selatan, dan China.

Selain itu, ia juga berharap kenaikan produksi ini juga bisa ditopang oleh harga yang membaik. Jika rata-rata harga timah berdasarkan London Metal Exchange (LME) berada di angka US$19 ribu per ton pada tahun lalu, maka ia berharap harganya bisa bergerak ke arah US$21 ribu per ton hingga akhir tahun ini.

“Diharapkan harga juga bagus karena trennya sedang membaik,” pungkasnya.

RBT merupakan penghasil timah batangan terbesar di Indonesia yang telah beroperasi sejak 2007 dengan kapasitas 2 ribu ton setiap bulannya.

Produksi RBT di tahun lalu mencapai 6,36 persen dari produksi timah mencapai 62.877 ton sesuai data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). (gir)