Direktur Keuangan Pertamina Arief Budiman menuturkan, revisi ini dilakukan karena asumsi harga minyak dunia tidak sesuai dengan prediksi perusahaan. Di dalam Rancangan Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) 2017, perusahaan memperkirakan harga minyak masih di kisaran US$35 per barel. Namun kenyataanya, harga minyak malah tercatat di level US$50 per barel per hari ini.
“Semuanya bergantung dengan harga minyak karena dulu kan kami set di US$35 per barel. Saat ini kami memproyeksikan (net income) US$2,3 miliar dari target RKAP US$3,04 miliar,” ujar Arief di kantornya, Rabu (16/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika harga minyak ini tak lekas berubah, maka perusahaan terpaksa melakukan efisiensi lebih jauh di semester II mendatang. Adapun rencananya, Pertamina berminat melakukan efisiensi sebesar US$1 miliar sepanjang tahun ini.
“Operating cash flow masih sudah membaik, tapi tetap harus di-balance dengan utang jangka pendek serta timing pembayaran tersebut. Namun, setengah tahun ini sudah stabil, dan bisa terus membaik,” jelasnya.
“Selain itu, dari sisi pemerintah juga tidak ada perubahan harga untuk Bahan Bakar Minyak (BBM) penugasan, ini akhirnya berimbas pada penurunan laba sebelum pajak, bunga, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA). Di semester I tahun ini, EBITDA kami turun ke angka US$4,1 miliar dari sebelumnya US$3,16 miliar,” pungkas Elia