TOP TALKS

Mengintip Jurus Pertamina Genjot Bisnis ke Mancanegara

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Senin, 14/08/2017 09:40 WIB
CNNIndonesia.com berkesempatan mewawancarai Direktur Utama Pertamina Elia Massa Manik di sela-sela pertemuannya dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). CNNIndonesia.com berkesempatan untuk mewawancarai Direktur Utama Pertamina Elia Massa Manik di sela-sela pertemuannya dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Pertamina (Persero) adalah salah satu perusahaan pelat merah yang berhasil melebarkan sayapnya hingga ke mancanegara.

Sepanjang semester I kemarin, produksi minyak Pertamina dari luar negeri tercatat 104 ribu barel per hari dan gas sebanyak 291 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Capaian itu masing-masing menyumbang 30,32 persen dan 14,39 persen dari total produksi hulu migas Pertamina sepanjang enam bulan pertama tahun ini.

Di tahun 2025 mendatang, Pertamina berharap 30 persen dari produksi hulu migas sebesar 1,9 juta barel per hari berasal dari lapangan-lapangan luar negeri.


Sebelumnya, Pertamina hanya beroperasi secara di tiga negara saja, yakni Malaysia, Irak, dan Aljazair.

Belakangan, lapangan kelolaan Pertamina bertambah menjadi 12 setelah mengakuisisi perusahaan asal Perancis, Maurel et Prom sebesar 72,65 persen akhir tahun kemarin. Bahkan rencananya, wilayah kelolaan ini akan bertambah di Iran dan Rusia dalam waktu dekat.

Namun, apakah akuisisi yang telah dilakukan dirasa cukup bagi perusahaan? Bagaimana strategi Pertamina terkait ekspansi internasional ke depan?

Untuk menjawab hal tersebut, CNNIndonesia.com berkesempatan untuk mewawancarai Direktur Utama Pertamina Elia Massa Manik di sela-sela pertemuannya dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) baru-baru ini.

Pertamina sudah bertemu dengan Petronas, Marubeni, dan ConocoPhillips demi membahas kemitraan secara internasional. Seperti apa pertemuan tersebut?

Kami melakukan brainstorming. Seperti biasa, ngobrol-ngobrol biasa saja.

Detail pembicaraan seperti apa yang dibahas?

Kami dengan ketiga perusahaan tersebut sejak dulu sudah partner. Seperti dengan ConocoPhillips, kami kan sudah bermitra di blok Corridor, di sisi hulu. Jadi saya bincang-bincang, bertanya mengenai pengembangan energi terbarukannya.

Dengan demikian, apakah nanti keinginan kerja sama lebih ke energi terbarukan?

Tidak juga, sisi hulu juga. Selain itu, saya juga bilang ke mereka, kalau ada pengembangan blok minyak di belahan mana pun, setelah bertemu cadangannya, misalkan, spakah Pertamina masih boleh ikut? Tapi, Pertamina hanya mengambil barang (produksi dari lapangan minyak saja).

Misalkan kami ikut ambil 10 persen dari produksi, katakan produksi mereka 100 ribu barel per hari, kami bisa bawa pulang 10 ribu barel per hari. Layaknya hak partisipasi.

Apakah memang strategi perusahaan seperti itu ke depan dalam mengembangkan bisnisnya secara internasional?

Iya, kami belajar dari perusahaan-perusahaan Jepang dan nantinya biar kami tidak usah lagi ikut tender-tender dalam mendapatkan minyak mentah. Ini sebetulnya sama saja dengan akuisisi, namun tidak menjadi operator.

Kami tidak harus selalu menjadi operator di semua lapangan migas untuk mendapatkan minyak mentah secara jangka panjang. Selama ini kan seolah-olah harus akuisisi dulu baru dapat minyak.

Ambil contoh Jepang, mereka ambil (hak partisipasi) di beberapa blok migas mungkin hanya sekian persen. Tapi lihat portofolionya. Petronas juga sama. Perusahaan asing di Indonesia pun banyak yang (memiliki hak partisipasi) minoritas.

Mengambil hak partisipasi tentu tidak murah, namun apakah pendanaan perusahaan siap untuk menuju ke sana?

Nah, saya baru mengemukakan ide dan ini adalah subject approval dari pemegang saham. Pemerintah pun demikian. Tapi seperti yang saya bilang, ini penting karena capek juga impor misal 1 juta barel minyak mentah per hari. Kalau ikut tender-tender terus, ini prosesnya capek.

Makanya ini harus dilakukan sembari menunggu proyek-proyek kilang Pertamina rampung. Karena kenapa? Kami harus secure minyak mentah baik dari domestik maupun luar negeri.

Tapi kami tidak harus selalu mengakuisisi, tidak harus selalu jadi operator. Coba lihat di hulu, apakah ada perusahaan yang mampu berdiri sendiri mengoperasikan lapangan migas? Ini kami perbaiki ke depan.

Apakah ada angka minimal terkait hak partisipasi yang diincar Pertamina untuk akuisisi nantinya?

Kadang-kadang, masalah hak partisipasi kan tergantung operatornya juga. Jadi tak ada target.

Sejauh ini, apa hanya tiga perusahaan ini yang baru bicara dengan Pertamina?

Iya, dan nanti kami akan ngobrol dengan semua perusahaan lainnya (terkait strategi Pertamina). Energi terbarukan juga sama, kalau kami hanya bikin hal yang kecil-kecil susah. Kalau kami mau belajar, Pertamina harus bikin lompatan. Nah, governance ini yang tengah kami susun. (gir/gir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK