Direktur Eksekutif CITA Yustinus Prastowo mengungkapkan, skenario terburuk itu terjadi jika pos penerimaan pajak hanya mencapai Rp1.094,88 triliun atau 85,3 persen dari target penerimaan pajak yang sebesar Rp1.283,57 triliun.
Selain itu, tak ada penambahan utang lagi atau persis seperti target APBNP 2017 sebesar Rp461,3 triliun. Sedangkan pos belanja tetap jor-joran mengeluarkan uang dengan proyeksi Rp2.068 triliun atau 96 persen dari target Rp2.133,29 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, skenario lainnya, yakni penerimaan tetap optimal mencapai Rp1.169,86 triliun atau 91,14 persen dari target, pembiayaan utang juga sesuai target, dan belanja hanya 96 persen dari target. Dengan demikian, defisit bisa berada di level 3,0 persen.
Untuk itu, ia melanjutkan, pemerintah perlu mengoptimalkan penerimaan dari semua pos, mulai dari pajak, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), dan lainnya.
Lihat juga:Sri Mulyani Emoh Komentari Pajak Freeport |
Di sisi lain, pemerintah harus mengerem belanja dengan target ideal hanya mencapai Rp1.950,89 triliun atau sekitar 91,45 persen dari target sebesar Rp2.133,29 triliun.
"Kalau penerimaan bisa optimal, belanja moderat, defisit aman," pungkas Yustinus.