Sementara, Hypermart memohon kelonggaran pembayaran dari para pemasoknya karena penjualan saat ramadan dan lebaran yang tak sesuai ekspektasi. Yang paling parah, 7-Eleven malah harus tutup permanen karena gulung tikar.
Kendati industri ritel tengah mencatatkan sederet cerita masam, mayoritas harga saham emiten ritel bergerak positif di sepanjang pekan lalu. Hal ini terjadi terutama pada emiten dengan nilai kapitalisasi terbesar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Ramayana Tutup Delapan Gerai Karena Merugi |
Sepanjang pekan lalu, harga saham perseroan meningkat 3,46 persen ke level Rp1.045 per saham. Sementara, pada awal pekan lalu, harga saham perseroan berada di level Rp1.010 per saham.
Sementara, harga saham PT Matahari Department Store Tbk (LPPF)menguat 0,94 persen, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) naik 1,47 persen, PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) menanjak 1,4 persen, dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) tumbuh tipis 0,36 persen.
Jangan heran, bila indeks sektor perdagangan dan jasa masih mampu membukukan pertumbuhan, meski cuma 0,4 persen pada pekan lalu. Asal tahu saja, sektor ritel menjadi sub sektor dalam indeks tersebut.
Ia mengakui, saat ini, pasar memang sangat dinamis dalam mempersepsi berita yang berkembang. Namun demikian, tidak semua permasalahan dipandang sebagai hal yang negatif untuk emiten tersebut.
Misalnya saja, rencana Ramayana dalam pembaruan gerai supermarket di beberapa kawasan pada akhir bulan ini. Reza mengatakan, hal itu akan menurunkan beban operasional perusahaan dan membuat kas perusahaan lebih sehat.
Harga saham Ramayana meningkat 3,46 persen di tengah isu penutupan delapan gerai supermarketnya pada 28 Agustus 2017. (CNN Indonesia/Astari Kusumawardhani). |
Pun demikian, pasar merespon negatif tunggakan utang yang dilakukan oleh Hypermart atau jaringan ritel yang dimiliki oleh Matahari Putra kepada beberapa suppliernya. Hal ini kembali menekankan kondisi keuangan perusahaan yang sedang memburuk.
Laporan keuangan perusahaan menunjukan, pada semester I 2017 Matahari Putra merugi hingga Rp169,82 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya yang masih mencatat laba Rp24,89 miliar.
"Kondisi itu mengkonfirmasi informasi pedagang-pedagang di Pasar Tanah Abang yang penjualannya menurun pada lebaran tahun ini dibandingkan dengan lebaran tahun lalu," terangnya.
Namun, ia menilai, kenaikan penjualan e-commerce sebenarnya belum terlalu signifikan dibanding dengan penjualan ritel. Dengan begitu, bukan hanya karena peralihan, tetapi kondisi yang menimpa Hypermart dan Ramayana juga akibat penurunan daya beli ataupun tingkat konsumsi masyarakat.
Nama Besar Grup Lippo
Beruntung, sambung Reza, pelaku pasar optimis tunggakan utang Hypermart bisa dilunasi sesegera mungkin. Sebagai bagian dari lini bisnis grup Lippo, pasar meyakini pendanaan Hypermart akan dibantu sang induk.
"Sebagian pelaku pasar masih percaya dengan pendanaan Lippo. Jadi, tidak mungkin tidak dibayar," imbuh dia.
Artinya, peran nama grup besar untuk suatu perusahaan termasuk penting bagi pelaku pasar. Jika grup besar itu memiliki citra yang positif, maka akan berdampak baik bagi lini usahanya.
Lihat juga:Ramayana dan Roda Ekonomi yang Berputar |
"Jadi, masalah akan selesai. Kalau ada satu dua yang belum selesai, pintu kami selalu terbuka," kata Danny.
Namun, sejumlah analis menuturkan, pemberitaan terkait Ramayana dan Hypermart masih akan mewarnai pergerakan harga saham masing-masing perusahaan pada pekan ini.
Di sisi lain, Al Fatih melihat ada potensi peningkatan untuk emiten ritel dalam jangka panjang. Hal ini seiring dengan diturunkannya suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) menjadi 4,5 persen dari sebelumnya 4,75 persen.
"Ini (kebijakan fiskal dan moneter) dapat mendorong peningkatan konsumsi," pungkasnya.
Harga saham Ramayana meningkat 3,46 persen di tengah isu penutupan delapan gerai supermarketnya pada 28 Agustus 2017. (CNN Indonesia/Astari Kusumawardhani).