Menilik laporan keuangan perseroan, perolehan laba bersihnya mencapai Rp368,77 miliar per Juni 2017. Realisasi ini tercatat tumbuh 45,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yaitu Rp254,05 miliar.
Kendati mendulang untung, pendapatan penjualan emiten dengan kode RALS ini cuma meningkat 9,79 persen. Yakni, dari Rp3,15 triliun pada semester I 2016 menjadi sebesar Rp3,46 triliun pada periode yang sama tahun ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Ramayana dan Roda Ekonomi yang Berputar |
Sumber CNNIndonesia.com menyebut, manajemen terpaksa menyetop operasional delapan gerai divisi supermarket karena merugi. Namun demikian, unit bisnis ini cuma bagian kecil dari kalau dibandingkan dengan unit department store.
Sebelumnya, ia menyebutkan, penutupan tidak bersifat permanen. Perseroan berencana melakukan renovasi, sehingga perlu untuk menghentikan operasional dalam satu hingga dua bulan ke depan.
Dalam selebaran yang beredar, Ramayana disebutkan akan menutup delapan gerainya. Yakni, gerai di Banjarmasin, Bulukumba, Gresik, Bogor, Pontianak, sertta Sabang. Sementara, dua gerai lainnya di Surabaya sudah ditutup lebih dulu.
Lihat juga:Ramayana Akui Tutup Gerai Demi Renovasi |
Masa Pemulihan Industri Ritel
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey menuturkan, perlambatan pertumbuhan bisnis ritel sudah terjadi dua tahun terakhir. Omzet pelaku usaha ritel bahkan melorot.
Justru, ia menilai, tahun ini merupakan tahun recovery (pemulihan) bagi industri ritel. Pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang relatif terjaga mendukung iklim usaha kondusif, termasuk stimulus fiskal dan moneter, seperti penurunan bunga acuan dari Bank Indonesia.
"Kalau bunga acuan turun, 3-4 bulan ke depan bank akan menyesuaikan. Kredit usaha semakin murah, ini dorongan yang sangat kami butuhkan. Kami harapkan, ada dorongan-dorongannya menyusul," pungkasnya.