Ramayana Tutup Delapan Gerai Karena Merugi

Christine Novita Nababan , CNN Indonesia | Minggu, 27/08/2017 10:12 WIB
Ramayana Tutup Delapan Gerai Karena Merugi Pendapatan penjualan perseroan tercatat cuma tumbuh 9,79 persen. Lalu, kewajiban perseroan sama besarnya dengan aset yang dimilikinya, yaitu Rp5,82 triliun. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Rencana PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk menutup delapan gerainya, esok hari, Senin (28/8) bukan tanpa alasan. Unit bisnis supermarket jaringan ritel pemilik merek Ramayana, Robinson, serta Cahaya, disebut-sebut merugi.

Menilik laporan keuangan perseroan, perolehan laba bersihnya mencapai Rp368,77 miliar per Juni 2017. Realisasi ini tercatat tumbuh 45,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yaitu Rp254,05 miliar.

Kendati mendulang untung, pendapatan penjualan emiten dengan kode RALS ini cuma meningkat 9,79 persen. Yakni, dari Rp3,15 triliun pada semester I 2016 menjadi sebesar Rp3,46 triliun pada periode yang sama tahun ini.

Yang patut menjadi perhatian, aset dan liabilitas perseroan tumbuh beriringan sebesar Rp5,82 triliun atau naik 25,3 persen. Utang pihak ketiga dan utang pajak paling membebani kewajiban perseroan.

Sumber CNNIndonesia.com menyebut, manajemen terpaksa menyetop operasional delapan gerai divisi supermarket karena merugi. Namun demikian, unit bisnis ini cuma bagian kecil dari kalau dibandingkan dengan unit department store.

Rata-rata pekerja di gerai supermarket sekitar tiga orang hingga 21 orang, bergantung skala usaha masing-masing toko. Itu pun, manajemen tak terlalu khawatir, mengingat gerai supermarket yang ditutup akan dialihkan ke unit bisnis fesyen.

Sekretaris Perusahaan Ramayana Setiadi Surya mengatakan, seluruh gerai yang ditutup merupakan bisnis supermarket. "Namun, tidak sepenuhnya ditutup, karena beralih fungsi menjadi department store. Tokonya tetap ada," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Minggu (27/8).

Sebelumnya, ia menyebutkan, penutupan tidak bersifat permanen. Perseroan berencana melakukan renovasi, sehingga perlu untuk menghentikan operasional dalam satu hingga dua bulan ke depan.

Dalam selebaran yang beredar, Ramayana disebutkan akan menutup delapan gerainya. Yakni, gerai di Banjarmasin, Bulukumba, Gresik, Bogor, Pontianak, sertta Sabang. Sementara, dua gerai lainnya di Surabaya sudah ditutup lebih dulu.

"Mohon untuk barang-barang returan dan administrasi diselesaikan sebelum tanggal 27 Agustus 2017 (hari ini) dan semua PO di-cancel (dibatalkan) atau tidak dikirim ke toko tersebut," imbuh Subekti Rudianto, Chief MD M8A - Toiletris Ramayana, dalam selebaran yang beredar.

Masa Pemulihan Industri Ritel

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey menuturkan, perlambatan pertumbuhan bisnis ritel sudah terjadi dua tahun terakhir. Omzet pelaku usaha ritel bahkan melorot.

"Tetapi, tidak semata-mata karena daya beli. Kami menyadari, peritel butuh rekonsiliasi untuk memenangkan persaingan, misalnya dengan merelokasi toko, renovasi. Pintar-pintar inovasi," terang dia.

Justru, ia menilai, tahun ini merupakan tahun recovery (pemulihan) bagi industri ritel. Pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang relatif terjaga mendukung iklim usaha kondusif, termasuk stimulus fiskal dan moneter, seperti penurunan bunga acuan dari Bank Indonesia.

"Kalau bunga acuan turun, 3-4 bulan ke depan bank akan menyesuaikan. Kredit usaha semakin murah, ini dorongan yang sangat kami butuhkan. Kami harapkan, ada dorongan-dorongannya menyusul," pungkasnya.