Direktur Jenderal Pajak Kemenkeu Ken Dwijugiasteadi juga membantah bahwa pemerintah sengaja memasang tarif pajak tinggi dan bertindak tak adil kepada penulis. Pasalnya, tarif pajak yang dikenakan pemerintah hanya 15 persen dari royalti penjualan buku penulis dan 10 persen berupa Pajak Penghasilan (PPh).
"Tidak, dia salah persepsi. Pajak penulis itu 15 persen dari royalti yang dipajaki dan itu Pasal 23 bisa dikreditkan. Itu final, bukan dari omset bukunya," ujarnya, di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Rabu (6/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penerbit kan macam-macam. Yang bikin buku dijual itu kertas, cover (buku). Di dalam itu kan bukan penulis yang bikin, kan pabrik. Dia dapat royalti, nanti royaltinya dipajaki," terang Ken.
Sebelumnya, Tere membuat status di laman Facebook pribadinya yang berisi soal keluhan pajak tinggi dari pemerintah dan penerbit buku terhadap penulis.
Dalam hitungannya, penulis disebut menjadi pembayar pajak paling tinggi dibandingkan pekerjaan lainnya, seperti Pegawai Negeri Sipil (PNS) hingga pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Selain tarif pajak tinggi, ia juga mengeluhkan ketidakadilan pajak yang diterapkan pemerintah. Sebab, pajak penulis langsung ditarik oleh penerbit sehingga tidak bisa ditutupi.
Sedangkan, banyak pekerjaan bebas lain, seperti artis, pengacara, yang masih kerap menyembunyikan penghasilan dan tak menyetorkan pajaknya.
Tak hanya itu, ia juga mengaku kecewa lantaran sudah setahun mengadu keluhan ya ini ke DJP dan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), namun tak pernah ditanggapi.
"Apa hasilnya? Kosong saja. Bahkan surat-surat itu tiada yang membalas, dibiarkan begitu saja nampaknya," keluh Tere.
Alhasil, ia memilih memutus kerja sama dengan dua penerbit buku, yaitu Gramedia Pustaka Utama dan Republika Penerbit per 31 Juli kemarin. Sehingga, buku-buku karyanya hanya dijual sampai 31 Desember mendatang. Namun, per 1 Januari tak lagi dijual.
"Insyaallah, buku-buku baru atau tulisan-tulisan terbaru Tere Liye akan kami posting lewat media sosial page ini dan atau akses lainnya yang memungkinkan pembaca bisa menikmatinya tanpa harus berurusan dengan ketidakadilan pajak," pungkasnya.