Direktur Jenderal Hortikultura Kementan Spudnik Sujono mengatakan, Kementan sudah dua kali bersurat ke Perum Bulog agar menyerap produksi petani.
"Surat saya pertama tanggal 7 September. Surat kedua, baru dikirim Minggu (17/9) kemarin. Intinya sama, meminta Bulog segera serap, lakukan pembelian di sentra-sentra yang harganya tidak tinggi," ungkapnya, mengutip ANTARA, Senin (18/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cara lain yang ditempuh Ditjen Hortikultura, yaitu mendorong Toko Tani Indonesia (TTI) untuk segera meningkatkan penjualan cabai petani, berkomunikasi dengan pelaku industri, mendorong peningkatan pengolahan cabai menjadi produk bernilai tinggi, serta memperpendek rantai pasok.
Kementan juga membangun mitra kerja sama permanen dengan industri makanan, mendorong disiplin petani dalam penerapan manajemen tanam sepanjang tahun, serta peningkatan kapasitas petani terkait pengolahan hasil panen cabai guna tahan lama dan bernilai jual tinggi.
"Saya juga berharap, ada dukungan daerah, supaya komoditas hortikultura ada kepastian harga. Apalagi, di sana kan ada Tim Pemantauan dan Pengendalian Inflasi Daerah (TPID)," paparnya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengklaim, inflasi minus atau deflasi yang terjadi pada Agustus 2017 menandakan harga bahan pangan atau yang termasuk harga barang bergejolak (volatile foods) telah membaik dan cukup terjaga.
"Harga pangan atau volatile foods dianggap sebagai sumber (inflasi) dan setelah melakukan upaya seperti harapan Bank Indonesia bahwa volatile foods harus distabilkan," imbuh dia.
Di sisi lain, ia melanjutkan, dalam tren inflasi rendah ini, daya beli masyarakat harus ditingkatkan untuk meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi.