Anda yang memiliki kartu kredit atau pinjaman di bank mungkin tak asing lagi dengan serbuan tersebut. Oki Mulyades (33 tahun), salah satu karyawan BUMN mengaku, kerap diserbu melalui telepon dan SMS yang menawarkan kartu kredit dan KTA. Setidaknya, dua telpon serta SMS masuk dalam satu hari.
Ia mengungkapkan, pernah seorang telemarketing yang mengaku bernama Danny dari DBS menawarkan produk Dana Bantuan Sahabat pada pagi hari. Kemudian, di sore hari, seorang yang mengaku bernama Linda menawarkan produk sejenis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak cuma itu, sambung Oki, ada juga tawaran pembuatan kartu kredit dari UOB, CIMB Niaga, dan BCA dengan iming-iming bebas biaya keanggotaan tahunan, voucher belanja dan makan. Padahal, salah satu kartu kredit yang ditawarkan sudah dikantonginya.
Lihat juga:Agar Tak 'Buntung' Pakai Kartu Kredit |
Tunggu OJK Tiup Semprit
Maraknya tawaran produk dari lembaga keuangan tersebut tidak cuma mengganggu aktivitas calon konsumen, tetapi juga mengkhawatirkan. Karena, ini berarti, data calon konsumen telah tersebar luas. Sehingga, tenaga pemasar bisa dengan leluasa menghubungi sasaran mereka.
Lihat juga:OJK: Ada Bank Asing Ubah Status Jadi PT |
Kemudian, Ketua Dewan Komisioner OJK, saat itu dijabat oleh Muliaman D Hadad, juga merilis surat agar pelaku usaha jasa keuangan, baik industri perbankan, asuransi, dan pasar modal, menghentikan penawaran produk dan pelayanan jasa keuangan melalui SMS dan telpon.
Sayangnya, OJK seperti tak bergigi, tawaran itu kembali 'membabi buta'. Bahkan, boleh dibilang lebih parah, mengingat tawaran yang masuk bisa sampai ke aplikasi Whats App.
Ia mengaku, OJK selalu memonitor, sembari berdalih bahwa sebagian konsumen dan provider (operator telpon) tak berkeberatan dengan penawaran produk yang dilakukan. “Mereka nggak keberatan juga kan? Yang pasti, kalau mengganggu itu diawasi di perlindungan konsumen,” tuturnya singkat.