Secara tahun berjalan (year to date/ytd), neraca perdagagan Januari-Agustus 2017 surplus US$9,11 miliar atau lebih tinggi dibandingkan Januari-Agustus 2016.
"Surplus ini merupakan yang terbesar sejak 2012, karena ekspor naik dan impor turun," ujar Kepala BPS Suhariyanto atau yang akrab disapa Ketjuk, Jumat (15/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:LPS: Banyak BPR Gulung Tikar karena Fraud |
Kenaikan ekspor berasal dari peningkatan nilai ekspor minyak dan gas bumi (migas) menjadi US$1,28 miliar dari US$1,17 miliar dan ekspor non migas menjadi US$13,93 miliar dari US$12,45 miliar.
Sedangkan impor mengalami penurunan, yaitu sektor migas turun 10,16 persen dari US$1,78 menjadi US$1,46 miliar dan sektor non migas turun 4,8 persen dari US$12,11 miliar menjadi US$11,53 miliar.
Berdasarkan penggunaan barang, impor barang konsumsi turun 9,39 persen menjadi US$1,2 miliar, impor barang baku/penolong turun 3,47 persen menjadi US$10,07 miliar, dan impor barang modal turun 5,95 persen menjadi US$2,22 miliar.
Adapun perdagangan Indonesia mengalami surplus dari India sebesar US$6,67 miliar, Amerika Serikat (AS) US$6,32 miliar, dan Belanda US$2,1 miliar. Sedangkan perdagangan defisit dari China minus US$9,19 miliar, Thailand minus US$2,53 miliar, dan Australia minus US$2,14 miliar.