Direktur Utama PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia (SMBC Indonesia) Kazuhiza Miyagawa mengungkapkan, potensi pembiayaan ke sektor infrastruktur masih sangat besar. Terlebih, potensi itu juga didukung oleh komitmen pemerintah.
Melihat potensi tersebut, lanjut dia, perusahan bersedia menjadi sole mandated lead arranger dan bookrunner dalam fasilitas kredit sindikasi PT Waskita Karya Tbk sebesar Rp5 triliun tahun ini. Dalam kredit sindikasi tersebut, perusahaan mengambil porsi Rp1,2 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ke depan, Miyagawa menilai, tren pembiayaan infrastruktur akan terus meningkat. "Kami akan terus melakukan ekspansi (pembiayaan) ke sektor infrastruktur seperti yang diharapkan oleh pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan," imbuh dia.
Sebagai anak usaha bank yang berkantor pusat di China, sebagian besar klien debitur perusahaan juga berasal dari China. Artinya, perusahaan banyak membantu investor asing yang ingin berbisnis di Indonesia terutama di sektor infrastruktur.
"Klien kami, sekitar 60 hingga 70 persennya berasal dari China,” jelasnya.
Wakil Direktur Utama PT Bank SBI Indonesia Naresh Kumar Sharma juga melihat potensi peningkatan pembiayaan ke sektor infrastruktur. Namun, mengingat keterbatasan modal, salah satu strategi yang digunakan bank yang masuk kategori usaha 2 ini adalah dengan berpartisipasi melalui fasilitas kredit sindikasi.
Kepala Bagian Perbankan Korporasi Badan Usaha Milik Negara PT Bank Permata Tbk Dedy Sahat menerangkan, saat ini, tren pembiayaan ke sektor infrastruktur memang terus meningkat. Namun, bank yang sebagian sahamnya dimiliki oleh Standard Chartered Bank ini tak mematok target penyaluran kredit ke sektor infrastruktur tertentu.
"Kami tidak menetapkan target tertentu tetapi kredit ke sektor infrastruktur memang ada kecenderungan naik," pungkasnya.