Rencananya, kompleks pabrik baja ini dibangun oleh Delong Holdings Ltd, sebuah perusahaan asal China yang mencatatkan sahamnya di bursa saham Singapura.
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, selain mengajukan izin ke BKPM, saat ini perusahaan tersebut juga meminta fasilitas libur pajak (tax holiday) mengingat sektor industrinya yang terbilang pionir dan nilai investasinya yang besar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan, nilai investasi perusahaan tersebut tercatat US$980 juta, namun nilainya bisa bertambah US$1,3 miliar jika ditambah pembangkit listrik.
“Izin ke BKPM sudah masuk, dan mereka sedang mengajukan tax holiday,” jelas Airlangga ditemui di sela-sela Pertambangan dan Energi Expo, Selasa (26/9).
“Mereka akan memproduksi carbon steel berbasis blast furnace. Produk turunannya nanti sebagian untuk long product,” tambahnya.
Ia melanjutkan, investasi ini sebelumnya telah dimulai dengan penandatangan nota kesepahaman perusahaan tersebut dengan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) dan Tsingshan Group pada bulan Juni silam.
Pembangunan ini, lanjutnya, bisa meningkatkan alur hilirisasi nikel yang diolah di Kawasan Industri Morowali. Sebab, melimpahnya pasokan carbon steel bisa meningkatkan produksi stainless steel di kawasan industri Sulawesi Tengah itu.
Di tahun ini saja, stainless steel yang diproduksi di Morowali tercatat 3 juta ton per tahun. Di tahun depan, rencananya kapasitas produksi stainless steel bisa ditingkatkan ke angka 4 juta ton per tahun.
“Dan itu akan menjadikan Indonesia setara dengan Eropa. Kita menjadi negara kedua terbesar untuk produksi stainless steel,” jelasnya. (gir)