Direktur Utama Martina Berto Bryan David Emil mengaku, target kontribusi itu tidak bisa dicapai dalam jangka pendek ataupun menengah. Pasalnya, bisnis perusahaan di bidang kosmetik juga terus tumbuh.
"Jadi kosmetik tumbuh, tapi jamu juga ingin tumbuh. Kosmetik masih masif sekali. Jadi butuh waktu 5-6 tahun ya," kata Bryan, Kamis (28/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jamu kami bukan jamu pengobatan, lebih ke kecantikan," tutur dia.
"Jadi pemberdayaan perempuan, sekarang bangun kampung jamu," ucap dia.
Selain itu, perusahaan juga membangun klinik jamu dan sedang berupaya membuat produk ramuan baru yang bisa dikirim ke Jerman dan Belanda.
Proses pemasaran lainnya, ditambahkan Bryan, adalah melalui platform daring (online) yang dilakukan untuk menjual seluruh produk yang masuk dalam Martha Tilaar Grup.
"Online shopping kami tumbuh 10 kali lipat, offline tidak terlalu bagus seiring dengan kondisi ritel Indonesia," terang Bryan.
Sementara itu, perusahaan juga tengah mengincar pasar ekspor baru di Asia Pasifik, seperti Hong Kong, China, Jepang, dan Korea. Yang pasti, saat ini Martha Tilaar Grup sedang melakukan penjajakan untuk ekspor ke China.
"Kalau sekarang Malaysia dan Brunei. Ini kosmetik dan jamu," ujar Bryan.
Adapun, total pendapatan perusahaan sendiri masih dikontribusi oleh penjualan dalam negeri. Untuk tahun depan, perusahaan tidak menargetkan pendapatan signifikan karena ia menyebut tahun depan sebagai tahun politik.