Martina Berto Genjot Bisnis Jamu Abaikan Kasus Ny Meneer

Dinda Audriene Muthmainah, CNN Indonesia | Kamis, 28/09/2017 19:13 WIB
Kontribusi pendapatan bisnis perseroan dari segmen jamu ditargetkan meningkat dari saat ini 3 persen, menjadi 5-10 persen dalam lima tahun ke depan. Kontribusi pendapatan bisnis perseroan dari segmen jamu ditargetkan meningkat dari saat ini 3 persen, menjadi 5-10 persen dalam lima tahun ke depan. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Martina Berto Tbk (MBTO) tengah menggenjot kontribusi pendapatan bisnisnya di segmen jamu hingga mencapai 5-10 persen. Saat ini, kontribusi bisnis jamu perusahaan baru mencapai sekitar 3 persen.

Direktur Utama Martina Berto Bryan David Emil mengaku, target kontribusi itu tidak bisa dicapai dalam jangka pendek ataupun menengah. Pasalnya, bisnis perusahaan di bidang kosmetik juga terus tumbuh.

"Jadi kosmetik tumbuh, tapi jamu juga ingin tumbuh. Kosmetik masih masif sekali. Jadi butuh waktu 5-6 tahun ya," kata Bryan, Kamis (28/9).


Namun begitu, Bryan meyakini industri jamu memiliki prospek yang bagus bagi perusahaan. Di samping itu, produk jamu yang dipasarkan oleh Martina Berto sedikit berbeda dengan produsen jamu lain, karena perusahaan memproduksi jamu kecantikan.

"Jamu kami bukan jamu pengobatan, lebih ke kecantikan," tutur dia.

Secara terpisah, pemilik induk usaha Martina Berto, Martha Tilaar mengatakan, pihaknya tengah mengembangkan kampung jamu agar produk yang dihasilkan bisa semakin meluas di Indonesia.

"Jadi pemberdayaan perempuan, sekarang bangun kampung jamu," ucap dia.

Selain itu, perusahaan juga membangun klinik jamu dan sedang berupaya membuat produk ramuan baru yang bisa dikirim ke Jerman dan Belanda.

Proses pemasaran lainnya, ditambahkan Bryan, adalah melalui platform daring (online) yang dilakukan untuk menjual seluruh produk yang masuk dalam Martha Tilaar Grup.

"Online shopping kami tumbuh 10 kali lipat, offline tidak terlalu bagus seiring dengan kondisi ritel Indonesia," terang Bryan.

Sementara itu, perusahaan juga tengah mengincar pasar ekspor baru di Asia Pasifik, seperti Hong Kong, China, Jepang, dan Korea. Yang pasti, saat ini Martha Tilaar Grup sedang melakukan penjajakan untuk ekspor ke China.

"Kalau sekarang Malaysia dan Brunei. Ini kosmetik dan jamu," ujar Bryan.

Adapun, total pendapatan perusahaan sendiri masih dikontribusi oleh penjualan dalam negeri. Untuk tahun depan, perusahaan tidak menargetkan pendapatan signifikan karena ia menyebut tahun depan sebagai tahun politik.
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK