Bahkan, Kepala Biro Humas dan Kerja Sama Internasional R Yudi Ramdan Budiman mengatakan, kerugian yang dihadapi perusahaan paling banyak berasal dari rute penerbangan Jakarta-Singapore-London-Jakarta (CGK-SIN-LHR-CGK).
"Penerbangan rute CGK-SIN-LHR-CGK memberikan kontribusi kerugian bagi perusahaan terbesar dibanding rute-rute lain sejak dibuka Maret 2016-Juli 2016 lalu senilai US$16,43 juta," ujarnya, Rabu (3/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidak ada standarnya, serta hasil evaluasi tidak memberikan dampak perubahan kinerja," kata Yudi.
BPK merekomendasikan agar perusahaan menyempurnakan kembali pembukaan rute dan evaluasi rute dapat dilakukan lebih maksimal.
Tak hanya kepada induk usahanya, BPK juga melakukan penilaian kepada anak usaha Garuda Indonesia, yakni PT Garuda Maintenance Facility (GMF) Aero Asia.
GMF Aero Asia berpotensi terkena denda karena dinilai tidak mencapai target Service Level Agreement (SLA) yang disepakati dalam memelihara pesawat milik Garuda Indonesia dan PT Citilink Indonesia.
"GMF juga belum optimal dalam mengambil langkah-langkah perbaikan dalam pencapaian SLA pemeliharaan pesawat Garuda Indonesia dan Citilink Indonesia," papar Yudi.
Manajemen Garuda Indonesia mengakui, pihaknya tidak menargetkan keuntungan untuk beberapa rute tertentu. Layanan penerbangan tetap dilakukan untuk meminimalisir dampak kerugian yang akan ditanggung perusahaan.
"Sedangkan untuk rute destinasi China yang belum optimal dapat dijelaskan jadwal penerbangan menyesuaikan ketersediaan slot di Beijing," tulis manajemen dalam Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester I 2017 (IHPS) BPK.
Sementara itu, terkait pemeliharaan pesawat oleh GMF Aero Asia, perusahaan mengaku ada SLA yang tidak tecapai pada tahun 2015 dan 2016.