Ia menyebut, telah terjadi pergeseran pola belanja ritel offline menuju daring (online). Memang, angka pertumbuhan belanja online saat ini masih sulit diukur. Namun, menengok data pertumbuhan sektor jasa angkut dan sewa barang, boleh dibilang daya beli tak kedodoran.
Berdasarkan data yang dikantonginya, sektor jasa angkut merokett 130 persen hingga akhir September 2017, diikuti sewa gudang yang tumbuh 14,7 persen.
Tak cuma itu, Jokowi bilang, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) juga terkerek 12,14 persen. Artinya, ada indikasi konsumsi masyarakat yang dituding suam-suam kuku tak sepenuhnya benar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apalagi, lembaga-lembaga pemeringkat internasional, seperti Fitch Rating, Standard and Poor (S&P), dan Moody’s telah meningkatkan peringkat investasi Indonesia.
Makanya, mantan gubernur DKI Jakarta tersebut mengaku heran dengan pesimisme ekonomi yang timbul. Ia mensinyalir, isu pelemahan daya beli cuma politisasi jelang tahun politik pada 2019 mendatang.
Indikator ekonomi memang sasaran empuk dan tidak jarang menjadi manuver politik jelang pesta demokrasi. Tak hanya di Indonesia, isu ini juga sukses memengaruhi opini publik dalam pesta demokrasi di negara-negara lain.
Ambil contoh, pesta pemilihan presiden di Amerika Serikat tahun 2012 silam. Saat itu, pesat politik negeri Paman Sam sempat dibumbui isu menurunnya kontribusi sektor manufaktur dan belum pulihnya pertumbuhan ekonomi usai krisis keuangan global tahun 2008.
Isu ini menjadi senjata andalan Partai Republik dalam melawan Presiden Barack Obama, yang kala itu akan mencalonkan diri untuk kedua kalinya.
Jokowi menyebut, telah terjadi pergeseran pola belanja ritel dari offline menjadi online, terlihat dari pertumbuhan sektor jasa angkut dan sewa barang yang melesat. (REUTERS/Beawiharta). |
Kejar Target Pertumbuhan
Lalu, dengan sisa dua tahun pemerintahan Jokowi, apakah kelewat dini untuk menilai politisasi dalam isu-isu terkait ekonomi?
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Rhenald Kasali mengatakan, bukan tidak mungkin isu pelemahan daya beli ditunggangi oleh mereka yang berpikiran politis.
Padahal, saat ini, ekonomi berjalan dengan intervensi teknologi. Artinya, mau tak mau, menggerus kegiatan ekonomi konvensional.
Pengamat Ekonomi Politik Fachry Ali punya pendapat berbeda. Menurut dia, kondisi makro ekonomi saat ini cuma punya peluang tipis untuk dijadikan sebagai isu politik. Pasalnya, ia menilai, ekonomi diprediksi masih mampu mencapai target hingga akhir tahun nanti.
Inflasi, misalnya, dengan realisasi tahun berjalan (year to date) sebesar 2,26 persen, ada peluang besar pemerintah bisa mencapai inflasi di angka 4 plus minus 1 persen. Dengan begitu, peluang untuk menyerang Jokowi dari sisi kestabilan harga sangat minim.
Di samping itu, pertumbuhan ekonomi hingga semester I masih di atas 5 persen. Meski angkanya masih di bawah target 5,2 persen, tetapi ada peluang untuk mengejar ketertinggalan di sisa dua kuartal terakhir.
Pun demikian, Jokowi perlu waspada terhadap serangan politik kalau ia menaikkan golongan harga-harga yang diatur pemerintah (administered prices), seperti tarif listrik dan Bahan Bakar Minyak (BBM) di 2018 nanti. Asalkan, harga kedua kebutuhan itu tak berubah, Jokowi tak perlu ketar-ketir di tahun depan.
Namun, ia menyarankan, untuk mengamankan diri dari serangan politisasi isu ekonomi, tak ada salahnya bila Jokowi melakukan lobi-lobi jelang tahun politik di 2019.
Bahkan, negosiasi politik melalui isu ekonomi pun dinilai sudah terjadi ketika Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meminta Jokowi untuk mengurangi dominasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam persaingan usaha sektoral.
Perlambatan Daya Beli
Terlepas dari isu politisasi, kenyataannya konsumsi masyarakat agaknya memang mengendur dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Lihatlah, Badan Pusat Statistik (BPS) melansir, sumbangan konsumsi rumah tangga pada Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II 2017 cuma 2,65 persen. Padahal, tahun sebelumnya, angka ini mampu menembus 2,72 persen dari total PDB.
Meski demikian, pemerintah masih optimistis bahwa pertumbuhan konsumsi masyarakat bisa membaik. “Pertumbuhan terjadi di semua segmen masyarakat, semuanya masih relatif positif,” papar Menteri Keuangan Sri Mulyani. (bir)
Jokowi menyebut, telah terjadi pergeseran pola belanja ritel dari offline menjadi online, terlihat dari pertumbuhan sektor jasa angkut dan sewa barang yang melesat. (REUTERS/Beawiharta).