Mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan konsumsi pada kuartal ketiga ini hanya sebesar 4,93 persen atau melemah dari periode yang sama tahun lalu, yaitu 5,01 persen.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan, kontribusi sektor ini pun melorot terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dari 55,88 persen ke 55,68 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Untuk selamatkan daya beli, pemerintah harus segera dorong penyaluran bantuan sosial, baik Program Keluarga Harapan (PKH) maupun beras untuk rakyat sejahtera (rastra). Kemudian, realisasi belanja pemerintah khususnya belanja barang dan modal juga dipercepat,” imbuh Bhima kepada CNNIndonesia.com, Senin (6/10).
“Artinya, kalau mau konsumsi rumah tangganya naik, maka iklim perpajakan harus dibuat kondusif,” jelasnya.
Meski ada beberapa kebijakan yang bisa dilakukan, ia mengaku pesimis pertumbuhan ekonomi bisa tembus 5,2 persen. Sebab, di antara seluruh komponen pembentuk PDB, Pembentuk Modal Tetap Bruto (PMTB) ialah satu-satunya variabel yang masih memberikan harapan. Apalagi, pertumbuhannya di kuartal ketiga bisa mencapai 7,11 persen.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani juga mengaku pesimis bahwa pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun nanti bisa mencapai target. Sebab, pertumbuhan ekonomi di semester I sebesar 5,01 persen sudah menunjukkan sinyal ketidakmampuan dalam mencapai target.
Meski demikian, pemerintah masih bisa memperbaiki keadaan. Salah satunya dengan meningkatkan kepercayaan diri konsumen dalam membelanjakan uangnya. Sebab menurutnya, kondisi politik belakangan ini membuat masyarakat ragu untuk belanja, sehingga tak heran banyak uang masyarakat yang menumpuk di perbankan.
Tak hanya itu, ia juga menyebut, pemerintah juga perlu meninjau kembali pernyataan mengenai daya beli yang tidak melemah. Sebab, data BPS menunjukkan pertumbuhan konsumsi dan kontribusinya ke PDB terus menurun. Ia berharap, pemerintah bisa introspeksi dan mencari akar permasalahan daya beli ini.
“Kalau (konsumsi rumah tangga) sampai turun, berarti kan ada masalah di daya beli. Apalagi, konsumsi menyumbang 50 persen dari pertumbuhan dan itu cukup signifkan. Tapi, jangan sampai hal ini dibuat resah terus, yang penting persepsi konsumen harus positif terus,” pungkasnya.
Sekadar informasi, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,06 persen ini lebih baik dibandingkan kinerja kuartal III 2015 dan 2016 yang tercatat 4,77 persen dan 5,01 persen.
Meski demikian, capaian ini hanya membuat pertumbuhan ekonomi secara tahun kalender (year-to-date) sebesar 5,03 persen atau masih jauh dari target 5,2 persen. (bir)