Pegadaian Minta Bunga Kredit Rendah Usai Holding Bank BUMN

Yuliyanna Fauzi , CNN Indonesia | Rabu, 22/11/2017 03:25 WIB
Pegadaian Minta Bunga Kredit Rendah Usai Holding Bank BUMN PT Pegadaian (Persero) beralasan agar pemberian pinjaman kepada nasabah dari perseroan bisa lebih kompetitif dan menguntungkan masyarakat. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Pegadaian (Persero) meminta tingkat bunga kredit perbankan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) lebih rendah setelah holding sektor jasa keuangan resmi dibentuk, yaitu targetnya pada kuartal I 2018 mendatang.

Dalam holding sektor keuangan, pemerintah berencana mendapuk PT Danareksa (Persero) sebagai pimpinan holding. Pegadaian akan masuk ke dalam holding tersebut bersama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN, PT Jalin Pembayaran Nusantara, PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia, hingga PT Permodalan Nasional Madani (PMN). 

Direktur Utama Pegadaian Sunarso mengatakan, hal ini agar pemberian pembiayaan kepada nasabah dari perseroan bisa lebih kompetitif dan menguntungkan masyarakat. Sehingga, manfaat dari holding lebih terasa ke masyarakat.

"Kami sih inginnya nanti kalau sudah holding, ada kesepakatan beri kredit ke kita, sebutlah misal 6 persen begitu. Supaya kami bisa jual ke nasabah, ke petani tak sampai double digit," ujar Sunarso, Selasa (21/11).

Kendati begitu, Sunarso belum bisa memastikan apakah rencana itu bisa diwujudkan oleh para perbankan pelat merah. Di sisi lain, ia enggan memberi penjelasan lebih jauh mengenai progres pembentukan holding jasa keuangan.


Sementara, Direktur Keuangan dan Teknologi Informasi Pegadaian Teguh Wahyono mengatakan, dengan holding tentu akan menjamin kebutuhan dana perseroan.

Namun, hal itu tak serta merta membuat alokasi pinjaman dari perbankan pelat merah ke Pegadaian menjadi 100 persen dan membuat perseroan menghentikan pinjaman dari bank swasta.

"Oh tidak. Kami tetap pertahankan (pinjaman dari bank swasta). Karena kan tahu tuh bawah pinjaman dari swasta ada yang tetap lebih murah. Artinya, kami tidak mungkin tinggalkan," kata Teguh.

Saat ini, porsi pinjaman dari perbankan BUMN sekitar 80 persen. Sedangkan sisanya sebanyak 20 persen dari perbankan swasta. Teguh juga mencatat, platform pinjaman perseroan masih sekitar Rp8 triliun dari kedua sektor perbankan itu.


Di sisi lain, sekalipun ada holding dengan empat perbankan pelat merah, Teguh mengatakan, sebenarnya perseroaan ingin memperluas pemenuhan dana dari instrumen lain. Sayang, Teguh belum ingin menyebutnya secara spesifik.

"Tapi dasarnya kami lihat opsi lain, karena sebenarnya pinjaman bank bukan yang paling aman juga. Masih ada dari instrumen lain yang masih harus dilihat, sesuai juga dengan kebutuhan," pungkasnya.

Untuk tahun depan, Teguh bilang, kebutuhan pendanaan perseroan sekitar Rp7,2 triliun. Kebutuhan itu akan ditutup dengan keuangan internal perusahaan sebesar Rp2 triliun, penerbitan obligasi Rp3,5 triliun, dan sisanya sekitar Rp1,7 triliun dari pinjaman perbankan. (gir/gir)