Direktur Jenderal Perimbangan Kemenkeu, Boediarso Teguh Widodo mengatakan, yang pertama adalah jumlah belanja pegawai yang jauh lebih besar dibanding belanja modal.
Perbandingannya, 36,6 persen belanja pegawai degngan 20 persen belanja modal. Kedua, adalah penyerapan anggaran yang belum optimal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Indikator ketiga, lanjut Boediarso, adalah ketimpangan pelayanan publik antar daerah. Ia mencontohkan, salah satu bentuk ketimpangan adalah partisipasi sekolah hingga SMA di Padang Sidempuan mencapai 87 persen. Sebaliknya di pegunungan Bintan, Papua, hanya 7 persen.
Dalam kurun yang sama, belanja daerah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) juga meningkat hampir 12 kali lipat dari Rp93 triliun menjadi Rp1.097 triliun.
"Tetapi kenaikan dari belanja APBD dan transfer daerah tidak diikuti dengan pengelolaan anggaran yang efektif dan efisien," jelas Boediarso.
Menurutnya Boediarso, pengelolaan, perencanaan dan monitoring keuangan negara merupakan kebutuhan yang mendesak dan krusial untuk dilakuka.
"Hal itu mengingat pengelolaan APBN dan APBD masih terdapat celah, yang masih dapat diperbaiki ke depan agar lebih efektif, efisien, optimal dan produktif" paparnya. (gir)