Dilansir dari Reuters, Selasa (12/12), harga minyak mentah Brent berjangka terdongkrak US$1,29 atau sekitar 2 persen menjadi US$64,69 per barel. Kenaikan juga terjadi pada harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) berjangka sebesar 1 persen atau US$0,63 menjadi US$57,99 per barel.
Selisih harga antara minyak mentah Brent dan WTI berjangka merupakan yang terbesar sejak akhir Oktober. Kenaikan harga minyak mentah Brent berjangka dipicu oleh berhentinya operasional pipa minyak dari Laut Utara yang membawa lima aliran minyak mentah yang diperhitungkan dalam perhitungan harga acuan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini kekhawatiran terkait pasokan, tidak hanya karena pipa (Laut Utara) dialiri minyak mentah dari Laut Utara dengan porsi yang signifikan, melainkan juga waktu penyelesaiannya bisa memakan waktu berminggu-minggu," ujar Analis Energi Senior Interfax Energy's Global Gas Analytics Abhishek Kumar di London.
Kilduff mengungkapkan, investor cenderung memilih aset komoditas keras di tengah situasi yang berisiko tinggi, seperti emas dan perak. Selain itu, minyak juga bisa menarik investasi.
Harga minyak mentah Brent dan WTI terdorong tahun ini berkat kesepakatan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan beberapa negara produsen minyak untuk memangkas produksi minyak sebesar 1,8 juta bph sejak Januari 2017 lalu.
Akhir pekan lalu, Menteri Perminyakan Kuwait memberikan sinyal bahwa strategi untuk keluar dari kesepakatan pemangkasan produksi bakal dikaji sebelum Juni 2018.
Senin lalu, Menteri Perminyakan Uni Emirat Arab mengungkapkan OPEC berencana mengumumkan strategi untuk keluar dari kesepakatan pemangkasan tersebut pada Juni 2018. Namun, ia melanjutkan, bukan berarti kesepakatan tersebut akan berakhir pada saat strategi tersebut diumumkan.
Perusahaan Layanan Energi Baker Hughes mengungkapkan, jumlah rig pengeboran minyak baru di AS bertambah dua menjadi 751 rig pada pekan lalu. Angka itu merupakan angka tertinggi sejak September.
"Perhatian terbesar investor saat ini tetap pada kenaikan jumlah rig di AS," ujar Penasehat Ekuitas dan Produk Derivatif ASR Wealth Advisers Shane Chanel.
Pertambahan jumlah rig minyak mengindikasikan bakal terjadi kenaikan produksi minyak AS lebih lanjut. Terakhir, produksi minyak AS telah mencapai 9,71 juta bph atau melonjak lebih dari 15 persen sejak pertengahan 2016.
Realisasi produksi tersebut merupakan level tertinggi sejak awal 1970-an, dan mendekati jumlah produksi negara produsen minyak utama seperti Arab Saudi dan Rusia. (bir)