Kemarin, Bank Indonesia (BI) meluncurkan kebijakan pembayaran perdagangan dan investasi langsung menggunakan mata uang lokal. Kebijakan ini mengganti transaksi dagang antar negara yang sebelumnya menggunakan dolar AS jadi mata uang lokal masing-masing negara.
Misalnya, Indonesia dengan rupiah, Malaysia dengan ringgit, dan Thailand dengan baht. Kebijakan ini diharapkan mampu mengurangi proses konversi satu mata uang lokal ke dolar AS dan mata uang lokal lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Ini akan memperkuat stabilitas ekonomi dari masing-masing negara, karena tidak lagi bergantung kepada mata uang asing lainnya, terutama dolar AS. Ini juga memperkuat persatuan dan kesatuan antar rakyat ketiga negara (RI, Malaysia, Thailand,” ujarnya melalui pesan singkat yang diterima CNNIndonesia.com, Selasa (12/12).
“Apabila permintaan mata uang dolar AS turun, maka nilainya tentu akan melemah dan ini jelas tidak diinginkan oleh Donald Trump,” terang dia.
Makanya, ia menyarankan, pemerintah masing-masing negara perlu melakukan konsolidasi dan mempersiapkan diri.
Sebagai gambaran saja, saat ini, rata-rata nilai transaksi perdagangan RI, Malaysia, dan Thailand mencapai US$1,2 triliun per tahun. Jumlah ini mencapai 50 persen dari total perdagangan di kawasan Asean.
Berdasarkan hubungan kedua negara, rata-rata nilai perdagangan RI dengan Malaysia dalam kurun waktu 2010-2016 mencapai US$19,5 miliar per tahun. Sementara, RI dan Thailand mencatat transaksi dagang sebesar US$5,5 miliar per tahun dalam periode yang sama.
Ke depannya, Agus berharap, kerja sama ini dapat diperluas ke negara-negara lain di kawasan Asean. “Kami akan lihat dari 10 negara yang punya hubungan ekspor-impor dengan Indonesia yang besar. Kami akan membuka kemungkinan untuk memperluas ini,” pungkasnya. (bir)