Tenaga Ahli Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman bidang Politik dan Media Atmadji Sumarkidjo mengatakan, Menteri Luhut B Panjaitan ingin proyek Kereta Api Jakarta-Surabaya mengadopsi teknologi modern. Sehingga, moda transportasi ini menjadi andalan di masa mendatang.
“Pak Menko Maritim (Luhut) melihat jangan pikir tiga atau empat tahun ke depan saja. Tapi, 20 tahun ke depan. Jawa itu nanti ibaratnya akan jadi satu kota yang berat ke depannya, jadi butuh transportasi yang modern,” ujarnya mengutip ANTARA, Selasa (12/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun, opsi pertama, yaitu meng-upgrade jalur existing dengan narrow gauge dengan biaya mencapai Rp57 triliun tanpa membangun jalan layang (flyover). Kecepatan kereta ini diperkirakan mencapai 129 kilometer per jam atau total waktu tempuh 5,5 jam.
Keempat, Atmadji menjelaskan, menggunakan standard gauge double track dengan biaya investasi hingga Rp153 triliun tanpa flyover, maka kecepatannya menjadi 190 km/jam. Dengan demikian, waktu tempuhnya menjadi lebih cepat lagi, yakni menjadi 3,5 jam.
Namun demikian, ia melanjutkan, pemerintah baru akan mengumumkan hasil studi kelayakan pada Maret 2018 mendatang. Hingga kini belum ada keputusan atas kajian tersebut. Sebelum mengambil keputusan itu pun, pemerintah masih akan berkonsultasi dengan pihak ketiga, yaitu Korea Selatan.
Diharapkan, proyek yang masuk dalam Proyek Strategi Nasional (PSN) 2017 tersebut bisa terlaksana sebelum masa kerja Presiden Joko Widodo berakhir 2019 mendatang.
"Pak Presiden sih inginnya sebelum masanya habis 2019 sudah peletakan batu pertama atau groundbreaking. Kami kejar, semoga bisa," pungkas Atmadji. (antara/bir)