Dilansir dari Reuters, Jumat (15/12), harga minyak mentah AS Wst Texas Intermediate (WTI) berjangka naik US$0,44, atau 0,8 persen, menjadi US$57,04 per barel. Sementara, harga minyak mentah Brent berjangka tidak berubah dari sehari sebelumnya di level US$62,44 per barel.
Pipa minyak Forties yang mengangkut minyak mentah dari Laut Utara ke terminal pemrosesan di Skotlandia ditutup pada Senin lalu pasca ditemukannya retakan. Berhentinya operasional pipa minyak berkapasitas 460 ribu barel per hari (bph) itu diperkirakan masih berlangsung hingga beberapa pekan ke depan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan pasar minyak mengalami surplus pasokan sebesar 200 ribu bph pada paruh pertama tahun depan sebelum defisit sebesar 200 ribu bph pada paruh kedua. Artinya, secara umum, pasar bakal seimbang di tahun depan.
IEA memproyeksikan dengan banyaknya uang yang mengalir ke industri minyak shale AS, Negeri Paman Sam bakal menyumbang 80 persen dari kenaikan produksi minyak dunia hingga 2025 mendatang.
"Pasar seperti mulai mencerna (laporan IEA) dan mengalihkan perhatiannya pada fakta (pasar) mulai mengetat," terang Direktur Riset Pasar Tradition Energy Gene McGillian.
Merosotnya persediaan minyak mentah AS sepanjang pekan lalu juga memberikan dukungan pada harga. Stok minyak mentah AS tercatat turun 5,1 juta barel, menjadi 442,99 juta barel, terendah sejak Oktober 2015 silam. Penurunan stok tersebut telah terjadi selama empat minggu berturut-turut. (bir)