Sementara itu, secara tahun kalender (year to date), neraca perdagangan terbilang surplus US$12.02 miliar atau lebih tinggi dibanding Januari-November 2016 yang sebesar US$9,53 miliar.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, surplus tipis terjadi lantaran nilai ekspor pada bulan tersebut sebesar US$15,28 miliar, sedangkan nilai impornya berada di angka US$15,15 miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ini terlihat dari turunnya ekspor industri tambang sebesar 8,09 persen secara bulanan dan pertanian sebesar 9,5 persen. Namun, di sisi lain, ekspor industri pengolahan naik 4,39 persen dipicu oleh pakaian jadi, besi baja, dan barag perhiasan.
Meski pertumbuhan eskpor bulanan melemah, ia yakin ekspor pada Desember bisa membaik. "Secara tren seperti itu, dan nanti hasil akhir tahun akan terlihat di pertumbuhan ekonomi yang akan kami rilis tahun depan," terang dia.
Sementara untuk impor, angka November yang sebesar US$15,15 miliar juga meningkat 6,42 persen dibanding bulan sebelumnya 19,62 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
"Kami harapkan, kenaikan barang modal ini akan berpengaruh ke pertumbuhan ekonomi dari sisi Pertumbuhan Modal Tetap Bruto)," imbuhnya.
Secara kumulatif tahun kalender, nilai ekspor Indonesia tercatat US$153,9 miliar atau naik 17,16 persen dari angka US$131,4 miliar dari tahun sebelumnya, dimana sebagian besar negara tujuan ekspor adalah China, Amerika Serikat, dan Jepang dengan jumlah 34,41 persen.
Sementara, untuk total nilai impor tahun kalender, angkanya tercatat US$141,88 miliar atau naik 15,47 persen dibandingkan tahun sebelumnya US$122,87 miliar, dimana sebagian besar barang didatangkan dari Tiongkok, Jepang, dan Thailand sebesar 45,05 persen. (bir)