Itu berarti, Sekretaris Jenderal Kemenperin Haris Munandar mengatakan, industri manufaktur telah berkontribusi 13,28 persen terhadap penyerapan tenaga kerja yang sebesar 128,06 juta. Ini sekaligus membuktikan bahwa industri manufaktur masih berperan penting dalam penyerapan tenaga kerja.
“Semakin banyak tenaga kerja di bidang industri, maka penggangguran akan semakin berkurang,” ujarnya melalui siaran pers dikutip Kamis (21/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Fitch Rating Kerek Lagi Peringkat Utang RI |
“Selain itu, industri furnitur berbahan baku kayu dan rotan nasional menyerap tenaga kerja langsung dan tidak langsung mencapai 2,5 juta orang,” imbuh dia.
Meski demikian, tenaga kerja di sektor manufaktur terbilang kompetitif mengingat 60 persennya sudah tersertifikasi. Selain itu, pemerintah juga tak mau berpangku tangan.
Oleh karenanya, Kemenperin kini tengah fokus dalam meningkatkan kompetensi SDM melalui pendidikan vokasi dengan berbasis kurikulum yang dibutuhkan industri (link and match).
Menurut data Badan Pusat Statistik, jumlah angkatan kerja per Agustus 2017 tercatat 128,06 juta atau meningkat 2,08 persen dibanding tahun sebelumnya 125,44 juta jiwa.
Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka pada bulan Agustus 2017 tercatat di angka 7,04 juta jiwa atau 5,5 persen dari seluruh angkatan kerja, di mana secara persentase, angka ini turun dari angka tahun lalu yakni 5,61 persen. (bir)