Menurut dia, nilai beban biaya itu tak ada apa-apanya dibanding subsidi BBM yang digelontorkan pemerintah pada masa terdahulu. Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2005 contohnya, realisasi subsidi BBM berada di angka Rp95,99 triliun. Angka itu bahwa mencapai puncak pada 2013 dengan nilai subsidi BBM terbilang mencapai Rp299,83 triliun.
Dengan demikian, ia menilai angka tanggungan biaya untuk BBM satu harga memberikan banyak manfaat ketimbang mudharatnya.
“Saya perintahkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menghitung, berapa sebetulnya biaya tambahan yang dikeluarkan. Mereka bilang Rp800 miliar. Kalau dulu subsidi bisa sampai Rp300 triliun, ini masa Rp800 miliar tidak bisa. Makanya satu harga ini harus dijalankan,” jelas Jokowi di Pontianak, Jumat (29/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Akibatnya apa? harga bahan-bahan pokok yang dibutuhkan rakyat makin mahal karena distribusi mahal, harga logistik tinggi,” ungkap dia.
“Misalnya di wilayah Papua, Kabupaten Puncak Memberamo, Intan Jaya, Tolikara. Ini medan berat, tetapi saya sampaikan ini harus dilakukan,” tambahnya.
Sepanjang 2017, pemerintah telah merealisasikan 57 titik BBM satu harga. Dari angka tersebut, 54 titik dikerjakan oleh Pertamina dan tiga sisanya digarap oleh PT Aneka Kimia Raya (AKR) Corporindo, di mana keduanya merupakan badan usaha yang ditunjuk menyalurkan BBM penugasan sepanjang tahun 2017 oleh Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas).
Lokasi penetapan BBM satu harga diatur di dalam SK Direktur Jenderal Migas Nomor 09.K/10/DJM.O/2017, di mana pemerintah menetapkan 150 lokasi yang dikerjakan oleh PT Pertamina (Persero), dan tujuh lokasi digarap oleh AKR. (lav)