Ia menilai, saat ini, penetapan harga acuan bahan pangan lainnya demi menekan inflasi belum diperlukan. Toh, inflasi dari kelompok bahan pangan bergejolak (volatile food) sebagian besar diakibatkan oleh faktor cuaca.
Menurutnya, saat cuaca hujan seperti sekarang ini, setiap komoditas pangan memiliki pergerakan harga yang berbeda-beda. Ambil contoh, harga beras yang naik, namun di sisi lain harga bawang justru terperosok.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Menghadapi harga bahan pangan harus persis pengetahuannya. Sehingga, (jumlah komoditas yang memiliki harga acuan) ya seperti sekarang saja dulu,” ujarnya, Jumat (5/1).
“Tanaman di lapangan sih masih ada, cuma mungkin bulir-bulirnya masih hijau. Sementara, untuk inflasi dari harga-harga yang diatur pemerintah (administered price), ya semua sudah tahu, bahwa setidaknya hingga kuartal I tahun ini tidak ada apa-apa,” imbuh dia.
Sebelumnya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, pemerintah siap mematok Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk beberapa komoditas pangan lainnya. Ini dimaksudkan agar inflasi tetap terjaga, sehingga bisa menopang daya beli masyarakat.
“Tahun 2018 kami akan lebih ketat lagi untuk mengendalikan. Kami tidak akan membiarkan harga naik berlebihan,” terang Enggartiasto.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut komponen volatile food mencatat inflasi bulanan (month to month) sebesar 2,46 persen dan merupakan kontributor terbesar dalam inflasi bulanan di Desember sebesar 0,71 persen.
Meski demikian, komponen volatile food hanya menyumbang inflasi 0,71 persen terhadap inflasi sepanjang tahun lalu, yaitu sebesar 3,61 persen. (bir)