Berdasarkan data Kementerian BUMN, kenaikan laba tertinggi dicatatkan oleh PT Bank Mandiri Tbk, dari Rp13,81 triliun pada 2016 menjadi Rp20,63 triliun. Kemudian disusul PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) yang naik dari Rp25,75 triliun menjadi Rp28,5 triliun.
Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) mencatatkan kenaikan laba dari Rp11,34 triliun menjadi Rp13,62 triliun dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) dari Rp2,62 triliun menjadi Rp3,02 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati mencatatkan kenaikan laba, BNI sebelumnya mengaku perolehan laba tahun lalu tak mencapai target perseroan.
Selain itu, menurut Rico, ada pula faktor dari penurunan suku bunga secara bertahap yang dilakukan bank, sejalan dengan penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).
Sementara itu, BRI yang juga mencatatkan kenaikan laba di akhir tahun lalu, ikut membukukan kenaikan kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL). BRI mencatatkan peningkatan rasio NPL ke kisaran 2,23 persen pada tahun lalu dari posisi tahun sebelumnya yang di kisaran 2,13 persen.
Lihat juga:Kredit Bermasalah BRI Bengkak di Tahun Lalu |
"Misalnya, ada industri perkapalan itu belum me-recovery sehingga restrukturisasi yang kami lakukan belum berjalan dengan baik. Di sektor lain, migas juga terjadi," kata dia.
Kendati begitu, menurut dia, restrukturisasi rupanya berhasil dijalankan pada sektor-sektor tertentu, seperti pertambangan. (agi)