Pertumbuhan Industri Perawatan Pesawat Capai 9 Persen

Christine Novita Nababan, CNN Indonesia | Sabtu, 03/02/2018 09:39 WIB
Pertumbuhan Industri Perawatan Pesawat Capai 9 Persen Kementerian Perindustrian melansir industri perawatan pesawat di dalam negeri bertumbuh sembilan persen per tahun dalam lima tahun terakhir ini. (Ilustrasi/ANTARA FOTO/M Agung Rajasa).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melansir bahwa industri perawatan pesawat di dalam negeri bertumbuh sembilan persen tiap tahun dalam lima tahun terakhir. Direktur Jenderal Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional Kemenperin I Gusti Suryawirawan menilai, bisnis perawatan pesawat masih menjanjikan. 

“Dengan pertumbuhan yang cukup tinggi, maka industri perawatan pesawat merupakan bisnis yang menjanjikan. Oleh karenanya, peluang ini harus bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (2/2).

Beberapa bandara yang berpotensi untuk dikembangkan oleh industri ini, yakni Bandara Internasional Sultan Hasanuddin-Makassar dan Bandara Internasional Frans Kaisiepo-Papua. Keberadaan industri yang dikenal sebagai maintenance, repair dan overhaul (MRO) tersebut penting demi efisiensi biaya perawatan.



“Bukan hanya pesawat, MRO ini dapat digunakan untuk perawatan helikopter yang menjadi salah satu transportasi udara utama di kawasan Indonesia Timur,” katanya.

Makanya, untuk mendorong industri MRO ini, pemerintah akan memfasilitasi investor dan memberikan informasi terkait potensi bisnisnya di Indonesia.

“Ada beberapa industri MRO yang telah terintegrasi dengan bandara, seperti di Bintan dan Kertajati,” terang Putu.


Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Harjanto mengungkapkan, potensi bisnis industri MRO di Indonesia pada 2025 akan mencapai US$2,2 miliar atau jauh melesat dibandingkan 2016 lalu, yakni sebesar US$970 juta.

Potensi pertumbuhan bisnis ini seiring dengan upaya pemerintah yang memacu pengembangan industri jasa penerbangan dalam negeri sejak 2000 silam.

“Industri MRO kita semakin kompetitif. Saat ini, sudah mampu menyediakan berbagai jasa perawatan pesawat, antara lain airframe, instrument, engine, radio, emergency equipment, dan line maintenance,” terang Harjanto.


Lebih lanjut ia menyebutkan, maskapai dunia mengeluarkan dana sebesar US$72,81 miliar untuk melakukan perawatan pesawat pada 2016 lalu. Dari nilai itu, Amerika Utara menjadi penyumbang terbesar, yakni  mencapai US$21,2 miliar. Diikuti, Eropa sekitar US$20,7 miliar dan Asia Pasifik US$13,3 miliar.

“Di 2025 mendatang, pasar perawatan pesawat di dunia diperkirakan terus meningkat dengan pertumbuhan 3,9 persen sehingga menjadi US$106,54 miliar. Asia Pasifik akan mengalami pertumbuhan terbesar, yaitu 5,8 persen dibanding Amerika Utara 0,9 persen dan Eropa 2,35 persen,” paparnya.

Sementara itu, menurut Harjanto, perusahaan MRO di Eropa dan Amerika Utara mulai fokus menggarap industri berteknologi tinggi dan padat modal. Sedangkan untuk jasa perawatan pesawat yang tergolong padat karya, bakal diserahkan kepada pihak lain.


“Kondisi ini akan memberikan peluang bagi industri MRO di Asia Pasifik termasuk di Indonesia,” terang dia.

Peluang bisnis tersebut, menurut Harjanto, perlu ditangkap oleh industri MRO nasional yang saat ini jumlahnya mencapai 32 perusahaan, yang tergabung dalam Indonesia Aircraft Maintenance Service Association (IAMSA). 

Adapun langkah strategis yang perlu dilakukan dalam menunjang hal tersebut, di antaranya adalah pengembangan sumber daya manusia industri, pembangunan kawasan industri terpadu, pemenuhan standar kualitas, dan penguatan industri komponen pesawat.

“Kami akan melakukan pembicaraan yang lebih intens bersama produsen pesawat, terutama Airbus dan Boeing agar dapat mendirikan Aircraft Engineering Center di Indonesia,” pungkasnya. (bir)