Crane Jatinegara Ambruk, Hutama Karya Setop Pengerjaan Proyek

Rayhand Purnama, CNN Indonesia | Minggu, 04/02/2018 15:27 WIB
Crane Jatinegara Ambruk, Hutama Karya Setop Pengerjaan Proyek Hutama Karya memutuskan untuk menghentikan sementara pengerjaan proyek double-double track kereta api jalur manggarai-jatinegara, usai insiden ambruknya crane. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Hutama Karya (Persero) memutuskan untuk menghentikan sementara pengerjaan proyek double-double track (DTT) kereta api jalur Manggarai-Jatinegara pasca insiden ambruknya crane di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur.

Direktur Operasional Hutama Karya Suroto mengatakan, pihaknya akan menghentikan proyek tersebut sembari menunggu hasil investigasi untuk mengetahui penyebab ambruknya crane.

"Jadi investigasi dulu. Pekerjaan berhenti, sampai ketemu permasalahan, lalu kami perbaiki baru bisa jalan lagi (proyeknya)," kata Suroto saat meninjau lokasi, Minggu (4/2).


Menurutnya, dalam investigasi tersebut, perusahaan menggandeng beberapa institusi, seperti Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Dinas Ketenagakerjaan, dan Komite Konstruksi.
Pada kesempatan yang sama, Direktorat Bina Marga Direktur Jembatan Iwan Zarkasih yang juga Anggota Komite Keselamatan Konstruksi mengaku, pihaknya belum dapat menarik kesimpulan apapun terkait penyebab insiden itu. Saat ini, pihaknya baru akan meminta izin kepada kepolisian untuk memasuki tempat kejadian perkara, lantaran masih dibatasi garis polisi.

"Ini harus kerjasama dengan banyak pihak. Makanya kami akan ijin dengan polisi untuk membuka dan memasuki area policeline. Setelah itu kami akan menguji kapasitas kelancaran dari alat yang digunakan," kata Iwan.

Iwan mengaku, investigasi kemungkinan akan sedikit terhambat, lantaran posisi alat berat itu tidak seimbang. Posisi tersebut dikhawatirkan bakal membahayakan para tim yang bekerja.
"Oleh karena itu kami belom bisa mendekat kaena untuk menjaga keamanan," ucap dia.

Lebih lanjut, Iwan menambahkan, proyek milik Kementerian Perhubungan itu akan kembali berjalan setelah alat, maupun pekerja di lokasi sudah dipastikan sesuai dengan prosedur yang berlaku.

"Setelah kami meyakini alat pekerja menggunakan SOP yang sudah diuji, baru bisa digunakan lagi," kata Iwan. (agi/agi)