Transmedia Luncurkan CNBC Indonesia

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Kamis, 08/02/2018 12:05 WIB
Transmedia Luncurkan CNBC Indonesia Transmedia resmi meluncurkan CNBC Indonesia, sebuah media yang akan berfokus membahas ekonomi dan bisnis. (Dok. CNBC Indonesia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Chairman CT Corp yang menjadi induk usaha Transmedia, Chairul Tanjung resmi meluncurkan media online baru, CNBC Indonesia. Media tersebut menjadi platform baru yang bernaung di bawah bendera Transmedia dan berfokus membahas ekonomi dan bisnis.

"Peluncuran ini merupakan soft launching yang nantinya juga bisa diakses secara real time melalui CNBCIndonesia.com," kata Chairul Tanjung dalam acara soft launching CNBC Indonesia di Lotte Avenue, Kamis (8/2).

Seiring dengan perkembangan teknologi di Indonesia, Chairul Tanjung berharap CNBC Indonesia bisa menjadi sumber pemberitaan ekonomi bagi pembaca Indonesia, khususnya mengenai perdagangan saham, penjualan obligasi, dan perkembangan ekonomi.



"Dalam tahapan berikutnya bisa akses grafik, mengenai pasar di Asia maupun global menyeluruh. Informasi menjadi lengkap," papar Chairul Tanjung.

Lebih lanjut ia mengatakan, pihaknya akan melakukan grand launching CNBC Indonesia Tv pada bulan Oktober mendatang saat gelaran IMF berlangsung. Nantinya, peluncuran ini akan disiarkan juga secara live streaming.


"Bisa diakses melalui semua platform," imbuh dia.

Ia menambahkan, CNBC Indonesia dimiliki 100 persen oleh Indonesia, layaknya CNN Indonesia yang sudah lebih dulu hadir di Indonesia. Pihak CT Corp membeli lisensi CNBC untuk CNBC Indonesia.

"Kami beli dari CNBC International, hanya nama saja. Branding is very important," katanya dia.

Transmedia Luncurkan CNBC Indonesia(Dok. CNBC Indonesia)

Sementara itu, Chairul Tanjung masih optimistis dengan pertumbuhan ekonomi dalam negeri ditopang oleh ekonomi global yang diprediksi mencapai 3,9 persen. Angka itu tumbuh dari pertumbuhan ekonomi global tahun 2017 sebesar 3,7 persen.

Selain itu, pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak di 171 wilayah juga akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pasalnya, uang yang beredar akan semakin banyak sehingga membantu daya beli masyarakat.


"Berikutnya pemerintahan sekarang Jokowi-Jusuf Kalla (JK) memasuki tahun keempat. Tentu hal-hal kurang sempurna setelah empat tahun pasti lebih sempurna," terang Chairul Tanjung.

Namun begitu, tingkat imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat (AS) yang telah mendekati angka 3 persen disebut Chairul Tanjung akan menjadi tantangan tersendiri bagi pertumbuhan ekonomi global, termasuk Indonesia.

"Ada norma di pasar AS, kalau yield lebih dari 3 persen maka orang akan beralih dari bursa ke obligasi, jadi orang percaya ada koreksi di pasar AS. Kalau pasar AS koreksi, maka Asia dan dalam negeri juga," jelas Chairul Tanjung. (gir/gir)