Berdasarkan Statistik Lembaga Pembiayaan yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rasio pembiayaan macet pada Januari 2018 mencapai 2,95 persen. Itu berarti, penurunannya 0,76 persen dalam satu tahun.
Menurut Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno, terjadi peningkatan kualitas pembiayaan karena upaya bersih-bersih kredit macet yang dilakukan banyak perusahaan multifinance.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya, saya kira, banyak yang bersih-bersih kredit macet, mulai dari restrukturisasi hingga write off (hapus buku) di tahun lalu. Sehingga, mulai terlihat hasilnya sekarang," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (5/3).
Selain itu, ia melanjutkan, peningkatan harga batu bara dan sejumlah komoditas lainnya turut membangkitkan selera pelaku usaha untuk berekspansi. Makanya, pembiayaan modal kerja dan pembiayaan investasi pada Januari 2018 terdongkrak.
"Pembiayaan naik. Artinya, bilangan pembaginya jadi ikut naik. Makanya, NPF-nya jadi turun," imbuh Suwandi.
Namun demikian, ia memprediksi, rasio pembiayaan macet multifinance tahun ini masih akan berkisar 2,7 persen - 2,9 persen. Alasannya, pembiayaan tahun ini pun cuma dipatok tumbuh 8 persen - 10 persen.
Secara keseluruhan, total pembiayaan yang disalurkan multifinance mencapai Rp416,48 triliun per Januari 2018 atau naik 6,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yaitu Rp389,52 triliun.
Dari sisi laba, industri multifinance menorehkan keuntungan sebesar Rp1,18 triliun atau naik 5 persen dibandingkan Januari 2017 lalu, yakni Rp1,12 triliun.
"Pertumbuhan laba karena pendapatan tumbuh lebih baik hasil dari peningkatan kualitas pembiayaan," terang dia. (bir)