Harga Minyak Merosot Setelah AS Serang Suriah

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Selasa, 17/04/2018 07:21 WIB
Harga Minyak Merosot Setelah AS Serang Suriah Harga minyak dunia merosot pada perdagangan Senin (16/4), waktu Amerika Serikat (AS), setelah serangan udara AS di Suriah pada akhir pekan lalu. (REUTERS/Edgar Su).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak dunia merosot pada perdagangan Senin (16/4), waktu Amerika Serikat (AS), seiring meredanya kekhawatiran investor terhadap eskalasi tensi di Timur Tengah menyusul serangan udara Amerika Serikat di Suriah selama akhir pekan lalu.

Dilansir dari Reuters, Selasa (17/4), harga minyak mentah berangka Brent melorot sebesar US$1,16 menjadi US$71,41 per barel. Penurunan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$1,17 menjadi Us$66,22 per barel.

Pada Sabtu (14/4) lalu, AS, Perancis dan Inggris meluncurkan 105 peluru kendali ke arah tiga fasilitas senjata kimia di Suriah. Serangan tersebut merupaan aksi balasan dari dugaan serangan gas beracun pada 7 April 2018 lalu.


Jelang serangan peluru kendali, harga minyak sempat melejit hampir 10 persen. Hal itu terjadi seiring meningkatnya permintaan investor terhadap aset, seperti emas dan surat utang pemerintah AS, yang dapat melindungi dari risiko geopolitik.

Ahli Strategi Pasar RJO Futures Phil Streible mengungkapkan serangan yang telah terjadi menghentikan antisipasi terhadap kemungkinan serangan lain yang lebih ekstrem. Akibatnya, pelaku pasar telah mengabaikan potensi serangan tersebut sebagai faktor pendorong harga (bullish).

"Pasar telah memiliki seluruh faktor yang mungkin mendorong harga pelemahan kurs dolar, Suriah, sanksi potensial, ketidakpastian Gedung Putih, perdagangan China," ujar Streible di Chicago.


Menurut Kepala Strategi Pasar Komoditas Global BNP Paribas Harry Tchilinguirian pelaku pasar merasa lega karena tidak ada kenaikan tensi di Suriah.

"Sejauh perkembangan di Suriah menjadi perhatian, pasar telah menghembuskan nafas lega mengingat tidak ada eskalasi, baik secara diplomatik maupun di darat, menyusul intervensi AS, Perancis, dan Inggris," katanya.

Tchilinguirian menuturkan jika investor ingin melakukan lindung nilai terhadap portofolio dari risiko geopolitik, kandidat aset utama adalah minyak, terutama jika risiko berada di Timur Tengah.


Meskipun Suriah bukan merupakan produsen minyak yang signifikan, kawasan Timur Tengah merupakan eksportir minyak mentah terpenting di dunia dan tensi di kawasan tersebut cenderung membuat pasar minyak bergejolak.

"Investor terus mengkhawatirkan efek konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah," tulis bank ANZ dalam catatannya.

Berdasarkan data InterContinental Exchange, para manajer investasi memegang lebih banyak kontrak Brent berjangka dan opsi dibandingkan kapanpun sejak pencatatan dilakukan pada 2011 lalu.


Investor telah menambah posisi bullish pada Brent yang setara dengan hampir 640 juta barel minyak, pada sembilan dari 10 bulan terakhir.

Peristiwa berikutnya yang tengah berada di radar investor adalah potensi keluarnya AS dari kesepakatan pembatasan nuklir Iran yang ditandatangani pada 2015 lalu. Presiden AS Donald Trump telah mengancam untuk menarik AS dari kesepakatan tersebut.

Pengenaan sanksi unilateral dari pemerintah AS dapat menghambat ekspor minyak dari Iran, salah satu produsen minyak terbesar di dunia.


"Pasar minyak masih relatif bertahan dengan baik dan keputusan terkait Iran pada pertengahan Mei bakal menjadi sedikit subyek pembahasan untuk empat minggu ke depan," ujar ahli strategi Petromatrix Olivier Jakob.


(bir)