Tensi di Suriah Masih Panas, Harga Minyak Mulai Stabil

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Jumat, 13/04/2018 07:32 WIB
Tensi di Suriah Masih Panas, Harga Minyak Mulai Stabil Harga minyak bergerak relatif stabil pada perdagangan Kamis (12/4), waktu Amerika Serikat (AS), di tengah memanasnya tensi di Suriah dan merosotnya persediaan minyak global. (REUTERS/Stringer).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak bergerak relatif stabil pada perdagangan Kamis (12/4), waktu Amerika Serikat (AS), di tengah memanasnya tensi di Suriah dan merosotnya persediaan minyak global.

Dilansir dari Reuters pada Jumat (13/4), harga minyak mentah berjangka Brent turun tipis sebesar US$0,04 menjadi US$72,02 per barel.

Sementara itu, harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) naik US$0,25 menjadi US$67,07. Kedua harga acuan menanjak pada perdagangan pasca penutupan (post-settlement trading).


"Kita (pasar minyak) relatif berhasil menjaga kestabilan setelah kenaikan harga kemarin dan sepertinya terlihat masih akan ada kenaikan lebih lanjut," ujar Kepala Analis Teknis United-ICAP Walter Zimmerman.


Kendati demikian, lanjut Zimmerman, pasar masih merasa cemas tentang peristiwa yang akan terjadi di Suriah.

Sebelumnya, harga minyak melejit pada perdagangan Rabu (12/4) ke level tertingginya sejak akhir 2014, setelah Arab Saudi menyatakan telah menjegal serangan peluru kendali di Riyadh. Lonjakan harga juga terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan peringatan soal aksi militer di Suriah. Kedua perkembangan di Timur Tengah memicu kekhawatiran terhadap kemungkinan terjadinya gangguan pasokan.

Beberapa sinyal fundamental juga mendukung pergerakan harga. Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) menyatakan kelebihan pasokan global hampir menguap akibat permintaan yang sehat dan berjalannya kesepakatan pemangkasan produksi.

Kartel OPEC memproduksi minyak di bawah target. Artinya, dunia harus menggunakan persediaan untuk memenuhi kebutuhan permintaan. Dalam laporan bulanannya, OPEC menyatakan persediaan minyak di dunia turun 17,4 juta barel pada Februari 2018 menjadi 2,854 miliar barel, sekitar 43 juta barel di atas rata-rata lima tahunan terakhir.

Seperti dikutip Reuters di New Delhi, Sekretaris Jenderal OPEC Mohammad Barkindo mengatakan kelebihan pasokan global telah berhasil ditekan sekitar 90 persen sejak awal 2017.

"Kami telah melihat percepatan menurunnya stok di penyimpanan dari level yang tak ada bandingannya 400 juta barel menjadi 43 juta barel di atas rata-rata lima tahunan," ujar Barkindo.


OPEC, Rusia, dan beberapa negara non-OPEC mulai memangkas pasokan pada Januari 2017. Rencananya, kesepakatan tersebut bakal berjalan hingga akhir 2018. Pertemuan OPEC pada Juni mendatang bakal menentukan langkah selanjutnya.

"Keyakinan terus tumbuh terhadap kemungkinan kesepakatan akan diperpanjang melampaui 2018," ujar Barkindo kepada Reuters.

Rusia, lanjut Barkindo, bakal terus memegang peran utama. Faktor pemicu kenaikan harga di atas berhasil melawan tekanan dari laporan pemerintah AS yang menyatakan persediaan minyak mentah AS naik 3,3 juta barel di tengah level produksi yang mencetak rekor 10,53 juta barel per hari.

Namun demikian, para analis masih menanti sinyal dari faktor fundamental lebih jauh. "Hal ini bergantung dari apakah permintaan akan sekuat yang telah diproyeksikan," ujar Manajer Riset Pasar Tradition Gene McGillian di Stamford.

(lav/lav)