Sekretaris Jenderal Kementerian PUPR Anita Firmanti menyebutkan progres pembangunan fisik tercatat mencapai 15,76 persen. Secara persentase, penyerapan tersebut lebih tinggi dari periode yang sama.
"Penyerapan tersebut lebih tinggi dari periode yang sama tahun 2017 yakni sebesar 14,34 persen dari anggaran tahun 2017 sebesar Rp106,22 triliun," kata Anita seperti dikutip dari Antara, Senin (30/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, paket kontraktual di Kementerian PUPR tahun 2018 sebanyak 9.946 paket dengan nilai Rp83,01 triliun. Terdiri dari paket kontraktual satu tahun, paket kontraktual tahun jamak baru, dan lanjutan.
Paket dalam proses lelang sebanyak 2.028 paket dengan nilai pagu Rp14,73 triliun dan 988 paket senilai Rp5,31 triliun masih dalam tahap persiapan lelang.
Paket Kontrak Bina Marga Paling Fantastis
Empat Direktorat Jenderal (Ditjen) dengan nilai paket kontraktual terbesar yakni Ditjen Bina Marga sebanyak 3.636 paket senilai Rp37,51 triliun, dan Ditjen Sumber Daya Air sebanyak 3.454 paket senilai Rp29,29 triliun.
Selanjutnya, Ditjen Cipta Karya sebanyak 1.726 paket senilai Rp 10,68 triliun dan Penyediaan Perumahan sebanyak 824 paket senilai Rp 5,05 triliun.
Total anggaran Kementerian PUPR pada 2018 sebesar Rp107,38 triliun dengan rincian 81 persen atau Rp88 triliun merupakan jenis belanja modal dan belanja barang berkarakter belanja modal.
Pada tahun 2018, selain membangun infrastruktur berskala masif, Kementerian PUPR juga menganggarkan Rp11,28 triiun untuk pembangunan infrastruktur dengan skema Padat Karya Tunai (PKT).
PKT bertujuan membuka lapangan kerja di daerah sehingga daya beli masyarakat desa meningkat dan lebih banyak uang beredar di daerah. (antara)