Kendati demikian, kekhawatiran terhadap peluang pengenaan sanksi AS kepada Iran menahan penurunan harga minyak lebih dalam.
Dilansir dari Reuters, Rabu (2/2), harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli merosot US$1,56 atau 2,1 persen menjadi US$73,13 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni turun US$1,32 atau hampir dua persen menjadi US$67,25 per barel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai catatan, semakin kuat kurs dolar AS membuat harga komoditas yang diperdagangkan dengan dolar AS menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Selanjutnya, risiko AS keluar dari kesepakatan nuklir Iran juga dipertimbangkan oleh pasar. Namun, hal ini memberikan dorongan kepada harga minyak. Pasalnya, keluarnya AS dari kesepakatan akan memberikan konsekuensi berupa sanksi terhadap Iran yang mempengaruhi ekspor minyak mentah Iran.
Analis Petromatrix Oliver Jakob menilai pernyataan tersebut bukan merupakan sesuatu yang baru di mata pelaku pasar.
"Ini menunjukkan betapa pasar telah memasukkan faktor (price in) ekspektasi bahwa Trump tidak akan memperpanjang kesepakatan keringanan (sanksi nuklir Iran),' ujar Jakob.
Trump telah memberikan Inggris, Perancis, dan Jerman tenggat waktu hingga 12 Mei 2018 untuk memperbaiki kelemahan dari kesepatan yang dilakukan pada 2015 lalu itu. Jika tidak ada perbaikan, AS bakal kembali mengenakan sanksi terhadap Iran.
Lebih lanjut, pertumbuhan produksi minyak mentah AS dan persediaan telah membebani pasar. Sebelum dirilis data resmi, jajak pendapat Reuters meramal persediaan minyak mentah untuk pekan lalu bakal melonjak. Sementara, persediaan produk hasil kilang diperkirakan akan merosot. (lav)