Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI kemarin, Kamis (17/5), diputuskan kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,5 persen dari sebelumnya 4,25 persen.
"Ini seperti dampaknya kan sudah kejadian, ya penyebabnya harus kejadian juga. Ini langkah penyesuaian jadi tidak perlu takut. Dampak juga sudah terjadi," ungkap Direktur Utama BEI Tito Sulistio, Jumat (18/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa waktu terakhir IHSG memang terus bergejolak hingga turun di bawah level 6.000 dan sempat menyentuh area 5.700. Hal ini sejalan dengan pelemahan nilai tukar rupiah hingga di angka Rp14 ribu per dolar Amerika Serikat (AS).
Saat ini, salah satu hal yang menjadi fokus pelaku pasar berpindah pada postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 setelah pemerintah menyebut akan menambah subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) sebesar Rp10 triliun seiring dengan kenaikan harga minyak dunia.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan kenaikan subsidi BBM ini juga atas penghitungan bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan dan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno.
Selain karena kenaikan harga minyak dunia, hal itu dilakukan juga sebagai dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Sri Mulyani mengatakan kenaikan subsidi BBM dilakukan agar keuangan Pertamina tidak membengkak.
Lihat juga:Indonesia jadi Pasien Malpraktik IMF |