Pelemahan rupiah merupakan yang terburuk diantara mata uang negara di kawasan Asia. Diikuti rupee India yang melemah 0,43 persen, yen Jepang minus 0,21 persen, dan baht Thailand minus 0,12 persen.
Lalu, renmimbi China minus 0,1 persen, ringgit Malaysia minus 0,08 persen, peso Filipina minus 0,05 persen, dan dolar Singapura minus 0,01 persen. Sedangkan won Korea Selatan berhasil menguat 0,32 persen dari dolar AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan kurs referensi Bank Indonesia (BI) atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) turut melemah 33 poin di angka Rp14.107 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.074 per dolar AS.
Gubernur BI Agus D.W Martowardojo mengatakan pelemahan rupiah terjadi karena besarnya dampak dari faktor eksternal dan internal. Dari sisi internal, Agus bilang, sentimen datang dari defisitnya neraca perdagangan Indonesia pada April 2018 sebesar US$1,6 miliar.
"Kami pahami ini adalah reaksi dari pelaku usaha karena melihat sinyal ekonomi yang membaik, karena persiapan Ramadan, dan adanya tekanan," ujar Agus di Kompleks Gedung BI.
Sementara dari eskternal, tekanan tetap berasal dari rencana kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS, The Federal Reserve hingga tiga kali sampai akhir tahun ini. "Mungkin akan menaikkan tiga kali, tapi bisa terjadi kalau AS inflasinya meningkat, bisa terjadi kenaikan Fed Fund Rate hingga empat kali," katanya.
Kendati rupiah kembali melemah, namun Agus memastikan bahwa bank sentral nasional senantiasa ada di pasar untuk menjamin ketersediaan likuiditas. (agi)