Bersama rupiah, mayoritas mata uang di kawasan Asia juga melemah. Mulai dari won Korea Selatan melemah 0,73 persen, ringgit Malaysia minus 0,24 persen, dolar Singapura minus 0,15 persen, peso Filipina minus 0,14 persen, baht Thailand minus 0,05 persen. Hanya yen Jepang yang menguat 0,3 persen di hadapan dolar AS.
Begitu pula dengan mata uang negara maju, seperti rubel Rusia melemah 0,21 persen, dolar Australia minus 0,19 persen, dolar Kanada minus 0,14 persen, dan poundsterling Inggris minus 0,07 persen. Sedangkan euro Eropa menguat 0,01 persen dan franc Swiss 0,04 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ibrahim, Analis sekaligus Direktur Utama PT Garuda Berjangka memperkirakan rupiah akan kembali menguat pada pekan ini dan bisa kembali ke kisaran Rp13.900 per dolar AS, setelah menguat tipis pada akhir perdagangan pekan lalu.
"Karena ada rilis neraca perdagangan dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada awal pekan dan selanjutnya ada pengumuman tingkat suku bunga Bank Indonesia," katanya kepada CNNIndonesia.com, akhir pekan kemarin.
"Diharapkan kebijakan ini diikuti dengan relaksasi lainnya dan mengurangi dampak negatif dari kenaikan suku bunga acuan," ucapnya.
Kenaikan bunga acuan sendiri, akan diumumkan oleh bank sentral nasional pada pengumuman Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 28 Juni mendatang.