Tuntutan ini tak berbeda dengan tuntutan Serikat Pekerja Garuda (Sekarga) dan Asosiasi Pilot Garuda (APG) beberapa waktu lalu.
Diketahui, Garuda Indonesia terus menderita kerugian dalam tiga tahun terakhir. Pada akhir tahun lalu saja, Garuda membukukan kerugian sebesar US$213,4 juta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebagai prasyarat awal, perlu dilakukan penggantian komisaris dan manajemen Garuda. Secara komprehensif, menempatkan orang-orang yang betul-betul kompeten," ujarnya, Senin (25/6).
Saat ini, ia melanjutkan, jajaran komisaris dan manajemen Garuda diduduki oleh orang-orang yang tidak kompeten di bidangnya. Hal itu disebut-sebut menjadi penyebab kerugian perusahaan.
Sebetulnya, sambung dia, kerugian keuangan Garuda cuma bagian kecil dari karut marut seluruh permasalahan perusahaan. Seharusnya, persoalan keuangan tidak terlalu sulit untuk dipecahkan.
Namun, ia menilai perusahaan tidak memiliki perencanaan yang baik untuk menangkal persoalan kerugian.
"Satu-satunya cara yang dilakukan Garuda adalah memotong biaya dan ini bahaya. Misalnya, anggaran training (pelatihan), padahal itu penting untuk keselamatan bisnis penerbangan. Kalau ini yang dipotong, besar bahaya," terang dia.
Menurut dia apabila kerugian Garuda tidak bisa dibenahi, pemerintah akan kesulitan untuk membenahi perekonomian Indonesia secara keseluruhan.
"Saya tidak ingin reputasi Presiden Joko Widodo rontok, kami akan rumuskan strategi perbaikan Garuda dan jika dilaksanakan Garuda bisa untung lagi kurang dari dua tahun," tandasnya. (bir)