Analis Artha Sekuritas Juan Oktavianus Harahap mengatakan sikap menahan konsumsi yang dilakukan masyarakat dipicu oleh potensi kenaikan suku bunga kredit perbankan. Hal tersebut sebagai respons atas kebijakan suku bunga acuan BI pada akhir pekan lalu.
"Hal ini berdampak pada penurunan angka konsumsi yang dapat menekan laju pertumbuhan ekonomi," ujar Juan dalam risetnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:BPS: Laju Inflasi Juni Capai 0,59 Persen |
Ditambah, angka inflasi sepanjang Juni 2018 terbilang rendah, meski bertepatan dengan momen Ramadan dan Lebaran. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut tingkat inflasi Juni 2018 sebesar 0,59 persen secara bulanan. Angka itu lebih rendah dibandingkan inflasi Juni 2017 sebesar 0,69 persen.
"IHSG diprediksi melemah dikarenakan dengan keluarnya data inflasi yang rendah," terang Juan.
Analis Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya berharap IHSG bisa berbalik arah menguat didorong oleh kembalinya sebagian dana asing ke pasar saham. Menurut dia, dana asing bisa menjadi sentimen positif bagi gerak IHSG untuk jangka panjang.
"Peluang kenaikan IHSG masih terlihat cukup besar. IHSG berpotensi menguat," ungkap William melalui risetnya.
Secara fundamental, kata William, ekonomi Indonesia masih bisa dikatakan terkendali terlihat dari inflasi Juni yang dinilai cukup terkendali. Sehingga, ia optimis IHSG dapat tembus ke level 5.958.
Sementara itu, IHSG tercatat melemah kemarin ke level 5.746 atau turun 0,9 persen. Namun, jumlah dana asing yang menguap di pasar reguler tampak menurun dari biasanya yang mencapai ratusan miliar menjadi hanya Rp26,63 miliar.
Berbanding terbalik, indeks di bursa saham Wall Street mayoritas menguat tadi malam. Dow Jones naik 0,15 persen, S&P500 naik 0,31 persen, dan Nasdaq Composite naik 0,76 persen. (bir)