Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI) atau Jakarta Interbank Dollar Spot (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.391 per dolar AS atau menguat poin dari posisi kemarin di Rp14.396 per dolar AS.
Bersama dengan rupiah, baht Thailand turut menguat 0,11 persen, renminbi China 0,21 persen, dolar Singapura 0,23 persen, peso Filipina 0,24 persen, rupee India 0,36 persen, dan won Korea Selatan 0,44 persen. Namun, yen Jepang melemah 0,04 persen dan ringgit Malaysia minus 0,02 persen dari dolar AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:IHSG Semakin Terjungkal ke Level 5.861 |
Mata uang negara maju mayoritas juga menguat terhadap dolar AS. Mulai dari dolar Australia 0,07 persen, dolar Kanada 0,14 persen, poundsterling Inggris 0,2 persen, euro Eropa 0,26 persen, dan franc Swiss 0,29 persen. Hanya rubel Rusia yang melemah 0,21 persen.
Lukman Leong, Analis Valbury Asia Futures menilai penguatan rupiah pada hari ini lebih didorong oleh pelemahan dolar AS akibat minimnya sentimen positif. Walhasil, mata uang Negeri Paman Sam itu melemah dari kebanyakan mayoritas mata uang di negara lain.
Selain itu, pasar masih menunggu testimoni bank sentral AS, The Federal Reserve mengenai perkembangan ekonomi terkini AS. Meski, diperkirakan pernyataannya tak jauh dari ekspektasi pasar saat ini.
Sementara sentimen lain yang beberapa waktu lalu berhasil menggerakkan dolar AS, yaitu perang dagang dengan China, rupanya tengah mereda.
Sedangkan sentimen lain, misalnya dari China dengan rilis pertumbuhan ekonomi dan akan dirilisnya data inflasi kawasan Eropa, dinilainya belum mempengaruhi pergerakan dolar AS.
Ia memperkirakan rupiah tetap berpotensi menguat sampai pertengahan pekan ini hingga menembus posisi Rp14.350 per dolar AS. (lav)